Oleh J.S. Badudu

Dalam bahasa, kita mengenal apa yang disebut sebagai kata ganti orang atau pronomina. Khusus dalam bahasa Indonesia, ada beberapa macam kata ganti ini. Ada kata ganti orang pertama (yang berbicara), seperti “aku”, “saya”, “hamba” (tunggal) dan “kami”, “kita” (bentuk jamak). Ada juga kata ganti orang kedua (yang diajak bicara), yakni “engkau”, “kau”, “kamu” (tunggal) dan “kalian” (jamak). Terakhir, kata ganti orang ketiga (yang dibicarakan), misalnya “ia”, “dia”, “beliau” (tunggal) dan “mereka” (jamak).

Kata “aku” lebih bersifat akrab dan intim, karena biasanya digunakan dalam lingkungan keluarga, sahabat, atau teman dekat. Sering juga digunakan jika orang yang diajak bicara lebih muda usianya, atau lebih rendah kedudukannya dari yang berbicara. Untuk orang yang lebih tua atau atasan, lazimnya digunakan “saya” yang lebih halus dari “aku”.

Sedangkan kata “hamba” biasanya ditujukan kepada Tuhan. Misalnya, saat berdoa, seseorang mengucapkan, “Oh Tuhan, berilah hambamu rezeki yang cukup.” Oh ya, ada lagi kata yang dulu sering digunakan terhadap raja (mudah ditemui dalam karya sastra lama), semisal kata “patik”. Namun dalam sastra modern, kata ini hampir tidak pernah dipakai lagi.

Berikutnya, kata “kami” digunakan untuk orang pertama jamak. Selain itu, dikenal juga kata “kita”, yang digunakan bila orang yang diajak bicara (orang kedua) termasuk di dalamnya. Ini fenomena yang agak unik. Sebab dalam bahasa Inggris, Belanda, maupun Arab, hanya dikenal satu bentuk kata yang mencakup pengertian, baik “kami” maupun “kita”. Inggris punya we, Belanda wij, dan Arab nahnu.

Kata ganti orang kedua yang lebih halus, belakangan sering dipakai “Anda” atau “saudara”, atau kata-kata benda untuk kata sapaan, seperti “ibu”, “bapak”, “tuan”, “saudara paman”, “bibi”. Sedangkan kata ganti orang ketiga (orang yang dibicarakan), bentuk tunggalnya menggunakan “ia”, “dia”, atau “beliau”, sedangkan jamaknya “mereka”. Bahasa Inggrisnya : they, Belanda zij, Arab hum (laki-laki) dan hunna (perempuan).

Banyak peminat bahasa menanyakan penggunaan kata mereka yang diulang menjadi “mereka-mereka”. Padahal, “mereka” itu sendiri sudah mengandung pengertian jamak. Misalnya dalam kalimat: Mereka-mereka yang datang ke pesta itu semuanya berpakaian bagus. Atau, Setujukah kau dengan yang diusulkan mereka-mereka itu? Jelas pengulangan kata “mereka-mereka” dalam kedua kalimat di atas tidak tepat. Tanpa diulang, kata “mereka” sudah mengandung pengertian yang diinginkan, yakni orang ketiga jamak. Mengapa harus ditegaskan lagi menjadi mereka-mereka?

Namun dapat dipertimbangkan penggunaan kata mereka yang diulang dalam kalimat berikut: Kalau ada pembagian, mereka-mereka saja yang dapat, kita tidak pernah diberi. Dalam kalimat ini, pengulangan kata “mereka” tidak untuk menyatakan makna jamak, tetapi mengandung pengertian selalu, artinya selalu mereka saja yang dapat.
Bandingkan dengan kalimat-kalimat berikut. Dalam suatu pertemuan orang tua murid, seorang ayah berkata, “Jangan memanjakan anak, karena akhirnya kita-kita juga yang susah.” Atau cerita tentang seorang murid yang terkenal nakal dan selalu dituduh oleh gurunya sebagai pembuat keributan. Tetapi suatu waktu, ketika keributan terjadi bukan karena ulahnya, dia juga yang dituduh. Karena itu, si murid pun berkata, “Kalau ada keributan di kelas ini, saya-saya saja yang dituduh.”

Nah, kini jelas kesimpulannya: Pengulangan kata ganti orang tidak selalu untuk menjamakkan (menyatakan jumlah banyak), tetapi dapat juga untuk menyatakan arti “selalu”. ***

Sumber : Intisari, November 2001