Cerpen Pamusuk Eneste
Dimuat di Jurnal Nasional (03/22/2009)

PAK BEN belum tahu apakah ia akan berangkat ke Gambir atau tidak. Ia sangsi apakah masih ada manfaatnya menyambangi stasiun kereta api itu. Jangan-jangan hanya buang-buang waktu. Buang-buang tenaga. Buang-buang energi. Bukankah hidup Pak Ben selama ini sudah berjalan baik-baik saja tanpa ada masalah? Ia mempunyai istri yang setia serta dua anak yang sudah jadi mahasiswa. Kalau toh ke Gambir juga, Pak Ben malah khawatir menimbulkan persoalan baru kelak.

Sekretaris Pak Ben sudah lama meninggalkan ruangan karena jam kantor telah usai dan tak ada tugas lembur. Sebelum meninggalkan ruangan, sang sekretaris malah masih sempat berpesan, ”Kalau ada apa-apa, saya bisa ditelepon di rumah, Pak.”

Kini Pak Ben sendirian di ruangan 6 x 6 meter yang sejuk itu. Dari lantai 10, Pak Ben bisa mengintip Jakarta dan sekitarnya. Ia bisa menatap pencakar langit yang mekar di seantero Jakarta. Rasanya ia bisa merengkuh Monas yang hanya beberapa ratus meter dari kantornya. Stasiun Gambir pun cuma selemparan batu dari ruangannya.

Sepanjang Jalan Merdeka Barat dan Jalan Merdeka Timur kendaraan padat merayap mirip semut beriringan. Hampir tak ada celah untuk menyalip, entah dari kiri entah dari kanan. Rute itulah yang harus dilalui Pak Ben kalau ia hendak ke Gambir beberapa menit mendatang.

Bukan deretan kendaraan yang tak putus-putus itu yang membuat nyali Pak Ben jadi ciut. Bukan pula karena orang yang mengajaknya bertemu itu. Yang membuat Pak Ben bingung adalah bahan obrolan di Gambir nanti. Bayangkan. Setelah 25 tahun tak jumpa muka, apa yang harus dipercakapkan Pak Ben? Bukankah jarak 25 tahun itu sangat panjang? Apa kabarmu sekarang? Sudah berapa anakmu? Kuliah di mana mereka? Suamimu kerja di mana? Apa kamu juga kerja atau cuma jadi ibu rumah tangga?

Ah, semua kata-kata klise. Pak Ben tak suka kata-kata semacam itu. Cuma basa-basi.

Yang lebih runyam lagi, lawan bicaranya pun mengajukan pertanyaan-pertanyaan serupa meski tak sama. Kamu kerja di mana sekarang? Istrimu kerja atau cuma jadi ibu rumah tangga? Anakmu laki atau perempuan? Kuliah di mana mereka?
***

KETIKA sedang berkemas-kemas hendak pulang, telgam Pak Ben disergap sebuah esemes. Mas, aku tunggu di Gambir sebelum pukul 20. Aku lagi di Jakarta, tapi harus buru-buru kembali ke Solo. Lantas di dalam kurung tercantum sebuah nama.

Pak Ben tertegun beberapa jenak, lantas cepat-cepat menghapus esemes itu. Dari mana perempuan itu mengetahui nomor telgamku? Pastilah dia mencarinya ke sana kemari. Jangan-jangan dia mendapatkannya dari ”Profesor Google” atau dari Facebook.

Nama perempuan itu sudah lama terhapus dari memori Pak Ben. Sejak perempuan itu tak mau beranjak dari kotanya (Solo), dan ogah diajak hidup di Ibu Kota (”untuk memperbaiki nasib”), Pak Ben menganggap mereka tak jodoh. Sejak itu pula, Pak Ben berusaha melupakan nama itu. Entah kenapa, kini nama itu menyelinap ke telgamnya. Pak Ben merasa seperti berada di dunia maya. Apa mau dikata, nama itu bukan fiksi, melainkan sungguhan. Nama yang dulu sangat dikenal Pak Ben, bahkan sangat dekat di hatinya.

Pak Ben menuju meja kerjanya. Laptop-nya masih pada posisi on. Pak Ben kemudian membuka situs google.co.id, lalu pindah ke fifa.com. Tak berapa lama, ia beralih ke situs stern.de. Tak juga ada yang menarik minatnya. Dia klik sembarang situs. Terkliklah 25 th-silam.com. Entah kenapa pula, wajah yang muncul di halaman depan adalah wajah Ratih.

Lho …kok?

Akhirnya, Pak Ben memencet tombol Close. Seterusnya Close dan Close lagi.

Pak Ben beralih ke imel. Dia membuka dokumen yang masuk. Ada peluncuran buku. Ada pemutaran film. Ada pameran ini-itu. Belum terhitung spam. Tahu-tahu ada imel menerobos masuk. Pak Ben tak mengenal alamat imel itu. Pak Ben memencet Open. Tahu-tahu muncul wajah Ratih di layar laptop-nya.

Lagi-lagi Pak Ben bingung. Siapa yang kirim?

Pak Ben akhirnya mematikan laptop, lalu ia pindah ke sofa.

Pak Ben menyetel televisi Sony 29 inci. Muncul berita pembunuhan, perkosaan, demo buruh, dan lawakan yang tidak lucu. Semua menyebalkan.

Iseng-iseng Pak Ben memilih saluran TVTerbaru. Lagi-lagi yang muncul adalah Ratih sebagai narasumber. Hebat betul perempuan ini! Si pewawancara menanyakan, apa resep sukses kehidupan Ratih dengan keluarganya sehingga terpilih menjadi Ibu Teladan. ”Yang penting kita saling percaya,” ujar Ratih dengan kalem dan lembut. ”Percaya pada suami, percaya pada anak-anak. Selebihnya, kita harus care dengan keluarga dan sekitar kita.”

Pak Ben memencet tombol Stop pada remote control.
***

PAK BEN belum tahu apakah ia akan berangkat ke Gambir atau tidak. Ia teringat kata-kata seorang psikolog yang pernah dibacanya entah di mana. ”Jangan sekali-kali menjumpai bekas pacarmu kalau tak ingin rumah tanggamu jungkir balik,” kata sang psikolog.

Jarum-pendek pada jam besar bermerk Junghans made in Germany di ruang kerja Pak Ben makin merambat ke angka 8. Itu adalah jam keberangkatan kereta malam eksekutif Gambir à Jogja à Solo Balapan.

Pak Ben berjalan mendekati jendela, kemudian menyibak tirai. Pandangannya menancap ke Stasiun Gambir. Ada rangkaian kereta api yang menanti sinyal berangkat dengan lokomotif mengarah ke timur.

Datanglah ke Gambir. Kita bisa jumpa sejenak. Ada yang ingin kusampaikan kepadamu. Keretaku berangkat jam 20 ke Solo. Datang ya.

Itu bunyi esemes kedua yang masuk ke telgam Pak Ben. Di bawah teks itu ada sebuah nama di dalam kurung: Ratih.

Pak Ben tak membiarkan esemes kedua itu bertengger lama di telgamnya. Dalam beberapa detik, esemes itu sudah lenyap.
***

PAK BEN masih berdiri di depan jendela. Matanya tak lepas dari ular besi yang perlahan-lahan menjauhi Gambir. Lengkingan lokomotif hanya sayup-sayup sampai ke telinga Pak Ben.

Tatapan Pak Ben terpaku pada rangkaian gerbong yang semakin jauh meninggalkan Gambir dan bergerak ke arah Cikini. Di gerbong manakah gerangan perempuan itu?

Ketika gerbong terakhir menghilang di tikungan, secara perlahan-lahan Pak Ben pun menutup kedua belah tirai jendela ruangannya.

Pak Ben kembali ke sofa. Entah kenapa, kini ia merasa lega.

Pak Ben tak tahu apakah ia menyesal atau tidak. Pak Ben juga tak tahu apakah ia telah menyia-nyiakan kesempatan atau tidak.
***

DI DEPAN lift, di lobi gedung berlantai 20 itu, Pak Ben menerima sebuah esemes. Aku sudah titipkan surat-surat cintamu kepadaku 25 tahun yang silam pada seorang satpam di Stasiun Gambir. Aku masukkan dalam sampul tertutup. Aku tak tega membuang/ membakarnya karena aku telah menjadi bagian dari masa silammu. (Ratih)

Pak Ben terpana, lalu buru-buru menghapus esemes ketiga itu.

Tiba-tiba, Pak Ben ingin menulis esemes. Bukan untuk Ratih yang sedang berada dalam kereta malam, melainkan ke seorang perempuan di pinggiran Jakarta. Aku pulang agak terlambat. Makan malamnya jangan dibereskan dulu. Ailafyu.

”Sini Pak tasnya saya bawakan,” kata seorang laki-laki sembari menerima tas-kerja Pak Ben.

”Terima kasih.”

Laki-laki itu bernama Sahroni, yang tak lain adalah sopir pribadi Pak Ben.

Pak Ben berjalan mengikuti Sahroni, menuju tempat parkir.

Sahroni menoleh ke belakang.

”Pulang ke rumah ’kan, Pak?”

Pak Ben mengangguk.

Jakarta, 24/12/2008—10/3/2009 (untuk M.R.)