Sejarah mencatat, sepanjang hidupnya HB Jassin menumpahkan perhatiannya mendorong kemajuan sastra-budaya di Indonesia. Berkat ketekunan, ketelitian dan ketelatenannya, ia dikenal sebagai kritisi sastra terkemuka sekaligus dokumentator sastra terlengkap. Kini, kurang lebih 30 ribu buku dan majalah sastra, guntingan surat kabar, dan catatan-catatan pribadi pengarang yang dihimpunnya tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Begitu besarnya pengaruh HB Jasin di antara kalangan sastrawan, Gajus Siagian (almarhum) menjulukinya “Paus Sastra Indonesia”. Saat itu berkembang suatu ‘keadaan’ dimana seseorang dianggap sastrawan yang sah dan masuk dalam ‘kalangan dalam’ bila HB Jassin sudah ‘membabtisnya’. Meski kedengarannya berlebihan namun begitulah adanya.

Saat itu, ada beberapa pengarang yang lama berada di ‘kalangan luar’ sebelum akhirnya diakui masuk dalam ‘kalangan dalam’ seperti Motinggo Busye, Marga T yang aktif produktif mengarang, dan penulis novel-pop lainnya. Padahal karya-karya mereka cukup baik, berseni dan bernilai bernas. Mereka lama berada di ‘kalangan luar’ karena “pengaruh besar kepausan” HB Jassin. HB Jassin jugalah yang menobatkan Chairil Anwar sebagai pelopor Angkatan ’45. Lebih dari 30 tahun, julukan itu disandangnya.

Jassin rajin dan tekun mendokumentasikan karya sastra, dan segala yang berkaitan dengannya. Dari tangannya lahir sekitar 20 karangan asli, dan 10 terjemahan. Yang paling terkenal adalah Gema Tanah Air, Tifa Penyair dan Daerahnya, Kesusasteraan Indonesia Baru Masa Jepang, Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai (empat jilid, 1954-1967) dan tafsir Alquran dalam buku Qur’an Bacaan Mulia. Pada saat ulang tahunnya ke-67, PT Gramedia menyerahkan ”kado” buku Surat-Surat 1943-1983 yang saat itu baru saja terbit. Di dalamnya terhimpun surat Jassin kepada sekitar 100 sastrawan dan seniman Indonesia.

Jassin memulai dan meneruskan kariernya dari banyak membaca. Lahir 31 Juli 1917 di Gorontalo, Sulawesi Utara, anak kedua dari enam bersaudara ini berayahkan seorang bekas kerani BPM yang ”kutu” buku. Jassin mulai gemar membaca tidak lama setelah duduk di bangku HIS (SD). ”Waktu itu, cara membangkitkan minat baca murid sangat bagus,” tuturnya tentang sekolah yang mengajarkannya teknik mengarang dan memahami puisi. Teknik mengarang dan memahami posisi sudah dipelajarinya sejak masih duduk di HIS (SD). Di HBS Medan — saat ikut ayahnya yang pindah ke BPM Pangkalanbrandan, Sumatera Utara — ia mulai menulis kritik sastra, dan dimuat di beberapa majalah.

Bekerja di kantor Asisten Residen Gorontalo seusai HBS — tanpa gaji — memberinya kesempatan mempelajari dokumentasi secara baik. Tetapi, belakangan Jassin menerima tawaran Sutan Takdir Alisjahbana, waktu itu redaktur Balai Poestaka, bekerja di badan penerbitan Belanda itu, 1940. Di sana ia juga berkarya sebagai penulis cerpen dan sajak.

Tak lama kemudian ia beralih ke bidang kritik serta dokumentasi sastra. Adalah Armijn Pane yang mengajarinya membuat timbangan buku dengan lebih baik. Inilah awal jabatannya sebagai redaktur berbagai majalah sastra dan budaya, seperti Pandji Poestaka dan Pantja Raja, lalu setelah Indonesia merdeka, di Mimbar Indonesia, Zenith, Kisah, Sastra, Bahasa dan Budaya, Buku Kita, Medan Ilmu Pengetahuan, dan Horison.

Bekas Lektor Sastra Indonesia Modern Fakultas Sastra UI ini tetap belajar sambil mengajar. Gelar sarjana sastra diraihnya pada 1957, dan doktor honoris causa, delapan belas tahun kemudian — keduanya di FS UI. Ia juga sempat mendalami ilmu perbandingan sastra di Universitas Yale, AS. Ia menguasai bahasa Inggris, Belanda, Prancis, dan Jerman.

Ada kisah unik saat ia menempuh pendidikan di UI. Saat itu, HB Jassin merangkap sebagai mahasiswa dan mahaguru sekaligus. Ketika kuliah sastra-lama, terutama mata pelajaran Jawa Kuno, Sanskerta, HB Jassin menjadi mahasiswa, tekun duduk bersama mahasisawa lainnya dan penuh perhatian pada matakuliahnya. Tetapi begitu berganti matakuliah Sastra Modern, Masa Kekinian, HB Jassin berdiri dan maju ke depan, berdiri di podium lalu memberi kuliah, karena memang sebagai doktor Sastra Modern.

Jadi dalam satu hari pada dua matakuliah, ia sekaligus bisa menjadi mahasiswa dan bisa menjadi mahaguru. Pada masa itu, orang seperti dia masih sangat langka. Ia memberikan teladan kepada para mahasiswa dengan rajin belajar, tekun, teliti dan sungguh-sungguh.

HB Jassin terbilang bukan orang yang ahli berdebat atau ahli berbicara di depan umum. Ia adalah orang yang menulis, berpikir lalu menuliskannya, tekun, rajin, dan berhati-hati. Seringkali saat diajak berdebat di depan forum resmi, ia tidak meladeninya. Karena itu pula pada banyak kesempatan pada beberapa kali simposium sastra-budaya, konggres, konferensi, seminar, dia selalu menolak untuk berbicara yang sifatnya akan ada perdebatan.

Pria yang tidak suka berdebat ini tidak bisa bersepeda. Ia lebih sering jalan kaki meski ada kalanya naik bis, becak dan kendaraan umum lainnya. Mungkin karena kebiasaannya itu ia panjang umur dan selalu dalam keadaan sehat pada zamannya.

”Wali Penjaga Sastra Indonesia” — julukan dari ahli sastra Indonesia Prof. A.A. Teeuw — ini pernah terganyang dan dikecam. Setelah menandatangani Manifes Kebudayaan (”Manikebu”), ia dituding oleh kelompok Lekra sebagai anti Soekarno. Akibatnya, ia dipecat dari Lembaga Bahasa Departemen P & K dan staf pengajar UI.

Namun, HB Jassin mampu bersikap jujur. Mengomentari buku Pramudya Ananta Toer, Bumi Manusia, ia menilainya tidak mengandung hal-hal yang melanggar hukum. Pelarangan terhadap buku itu lebih banyak karena dikarang oleh bekas tokoh Lekra.

Cerpen Ki Panji Kusmin, Langit Makin Mendung, yang dimuat HB Jassin dalam Sastra, 1971, sempat dianggap ”menghina Tuhan”. Di pengadilan, ia diminta mengungkapkan nama Ki Panji Kusmin sebenarnya. Permintaan ditolaknya. Akibatnya, HB Jassin dihukum satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun.

Kritik sastranya bersifat edukatif dan apresiatif serta lebih mementingkan kepekaan dan perasaan daripada teori ilmiah sastra. Hasil dokumentasinya lebih dari 40 tahun — termasuk 30 ribu buku dan majalah sastra, guntingan surat kabar, dan catatan-catatan pribadi pengarang — telah dihimpun dan disimpan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pria gemuk pendek ini menikah tiga kali. Istri pertama, Tientje van Buren, wanita Indo yang suaminya orang Belanda yang disekap Jepang, pisah cerai. Lalu Arsiti, ibu dua anaknya, meninggal pada 1962. Sekitar 10 bulan kemudian ia menikahi gadis kerabatnya sendiri, Yuliko Willem, yang terpaut usia 26 tahun. Yuliko juga memberinya dua anak. Dari kedua istri ini, ia memiliki empat anak, yakni Hannibal Jassin, Mastinah Jassin, Yulius Firdaus Jassin, Helena Magdalena Jassin, 10 orang cucu, dan seorang cicit.

Ia meninggal pada usia 83 tahun, Sabtu dini hari, 11 Maret 2000 saat dirawat akibat penyakit stroke yang sudah dideritanya selama bertahun-tahun di Paviliun stroke Soepardjo Rustam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Sebagai penghormatan, ia dimakamkan dalam upacara kehormatan militer “Apel Persada” di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta.

***

Apa Kata Mereka
Kalangan sastra melihat HB Jassin sebagai pendokumentasi sastra yang sangat ulung dan sangat tekun. Menurut pengarang Budi Darma, peran Jassin sangat penting apalagi mengingat masyarakat Indonesia yang abai terhadap soal-soal dokumentasi dan kesadaran sejarahnya sangat rendah. Akibatnya banyak yang cenderung mengulang-ulang. Tambahnya ketika dihubungi di Surabaya, “ia juga kritikus sastra formal yang pertama. Sebelumnya seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Armiyn Pane atau Amir Hamzah lebih banyak menulis puisi atau novel.”

Penyair Sapardi Djoko Damono menilai, dewasa ini banyak orang sekaliber HB Jassin, bahkan melebihinya. “Tetapi orang yang setia pada sastra seperti Pak Jassin tidak ada lagi. Selama 60 tahun hanya itu pekerjaannya,” ujar Sapardi yang pernah menjadi editor pada buku HB Jassin 70 Tahun, terbitan PT Gramedia tahun 1987.

Menurut sejarawan Taufik Abdullah, HB Jassin adalah tokoh yang luar biasa dalam bidang sastra karena bisa memperkenalkan sastra kepada anak muda tahun 1950-an, yang sulit ditemui pada zaman sekarang. Yang lebih penting lagi, HB Jassin adalah pemelihara dokumentasi sastra terpenting di Indonesia. Tambahnya, “Dengan itu kita bisa menulis lebih baik.”

Mantan Ketua Dewan Kesenian Jakarta Dr Salim Said berpendapat, HB Jassin adalah pencari bakat terbesar yang dimiliki Indonesia. Dia pula satu-satunya sastrawan Indonesia yang diakui pemerintah dalam bentuk anugerah Bintang Mahaputera, sehingga HB Jassin dimakamkan secara militer. Ia menilai HB Jassin banyak menemukan pengarang-pengarang muda berbakat yang dia dorong untuk menjadi pengarang.

Kalangan seniman yang lebih muda pun tetap merasakan jasa Jassin. Penyair Dorothea Rosa Herliany (37) yang ditanya di Magelang, Jawa Tengah, mengaku tersentuh oleh sikap Jassin yang dalam keadaan sakit masih memperhatikan cerpen-cerpen anak muda.

Kepada wartawan, Gus Dur berkata, “Saya dibesarkan dalam tulisan beliau di Mimbar Indonesia dan beberapa buku. Saya menghormati beliau, karena beliau adalah raksasa tempat kita berutang kepadanya.” Gus Dur mengaku terkesan dengan tulisan asli HB Jassin berjudul Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei, yang pertama kali diterbitkan tahun 1954.

Nama: Hans Bague Jassin
Lahir: Gorontalo, Sulawesi Utara, 31 Juli 1917
Meninggal: Jakarta 11 Maret 2000

Istri:
– Tientje van Buren (cerai)
– Arsiti (meninggal)
– Yuliko Willem
Anak:
– Hannibal Jassin
– Mastinah Jassin
– Yulius Firdaus Jassin
– Helena Magdalena Jassin
Pendidikan:
– HIS, Balikpapan (1932)
– MULO
– HBS, Medan (1939)
– FS UI, Jakarta (1957)
– Universitas Yale, AS (1958-1959)
– Doktor Kehormatan Sastra dari UI (1975)
Karya Tulis:
– Angkatan 45 (Jajasan Dharma, 1951)
– Tifa Penyair dan Daerahnya (Jajasan Dharma, 1952)
– Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (Gunung Agung, empat jilid, 1954-1967)
– Kesusasteraan Dunia dalam Terdjemahan Indonesia (Jajasan Kerjasama Kebudajaan, 1956)
– Heboh Sastera 1968 (Gunung Agung, 1970)
– Gema Tanah Air (1948)
– Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang (1948)
– Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956)
– Kisah 13 Cerita Pendek (1955)
– Analisa, Sorotan atas Cerita Pendek (1961)
– Amir Hamzah, Raja Penyair Pujangga Baru (1962)
– Pujangga Baru Prosa dan Puisi (1963)
– Angkatan 66 Prosa dan Puisi (1968)
– Surat-Surat 1943-1983, Gramedia, 1984
Terjemahan:
– Max Havelaar (karya Multatuli, Djambatan 1972)
– Al Qur’an Bacaan Mulia (Djambatan, 1978) dan Bacaan Mulia (edisi perbaikan, Yayasan 23 Januari 1942, 1982).
– Terbang Malam (Karya A de St Exupery)
– Api Islam (Karya Syed Amir Ali, 1966)
Pekerjaan:
– Pekerja Sukarela di Kantor Asisten Residen Gorontalo
– Redaksi majalah Poejangga Baroe
– Redaksi Balai Pustaka (sampai 1947)
– Redaktur majalah Mimbar Indonesia, Zenith, Kisah, Sastra Bahasa dan Budaya, Seni, ”Medan Ilmu Pengetahuan”
– Horison Dosen Luar Biasa di FS UI
– Penasihat Lembaga Bahasa Nasional
– Pendiri Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Sumber:
Dari berbagai sumber: Tempo, Kompas, dan sebagainya.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)