Cerpen Gus tf Sakai
Dimuat di Kompas (07/09/2000)

Tugas Upit selesai begitu mobil Si Abang meluncur dari pintu pagar dan berbelok di ujung jalan lalu lenyap. Pukul tujuh pagi. Upit akan menutup pagar, melangkah ke teras, masuk ke rumah, dan naik ke kamarnya di lantai atas. Dari kamar itu, melalui kaca gelap yang lebar, Upit menatap ke jalan. Jalan blok perumahan yang pendek. Jalan di mana setiap pagi Upit melepas Si Abang menekuk-nekuk dagu takut-takut bersitatap dengan orang lain selain Si Abang. Jalan di mana setiap pagi Upit merasa seluruh dunia memperhatikannya dan ia merasa tubuhnya menciut, mengecil seperti liliput.

Masih banyak orang lewat di jalan itu. Lelaki berseragam cokelat (mungkin pegawai kantor pemerintah), perempuan berkostum biru dengan blaser (mungkin karyawati sebuah bank), gadis berpakaian ringkas dengan jins, dan siswi-siswi SMU yang mendekap buku entah apa dengan punggung diganduli tas yang bergerak turun-naik sesuai irama langkah mereka yang di mata Upit tampak begitu gembira. Akan lama mata Upit terpaku pada mereka, anak-anak sekolah itu. Sampai tak terasa jalan tiba-tiba lengang, dan waktu menunjuk hampir pukul 08.00.

Upit, kemudian, akan mengempaskan tubuh ke kasur. Di matanya akan tak putus bayangan siswi-siswi SMU itu. Mungkin sekarang mereka sama tengah melotot, ke papan tulis. Mungkin juga guru tak masuk sehingga mereka berhamburan ke kantin. Mungkin ada yang memafaatkan jam kosong dengan mengerjakan tugas kelompok. Akan tetapi, tentu, lebih banyak dari mereka yang entah merumpikan apa, lalu terkikik-kikik menahan tawa.

Tiga tahun yang lalu, Upit bagian dari mereka. Sebelum, tiba-tiba, jadi istri Si Abang.

***

Upit masih ingat bagaimana ayah dan ibunya, dulu, tiga tahun lalu itu, ingin membicarakan sesuatu yang khusus dengan Upit. Waktu itu mereka habis makan malam, dan ayah menyuruh adik-adiknya menyingkir. Ina, Adel, dan Eci masuk ke kamar. Tetapi Ijul, seperti biasa, memilih bergabung dengan geng-nya di gardu ronda.

Mulanya Ibu bercerita tentang kesulitan-kesulitan Ayah sekaitan dengan kebutuhan keluarga. Lalu cerita beralih ke tempat kerja Ayah, sebuah toko yang menjual berbagai bahan bangunan. Upit menduga Ibu akan bercerita tentang kemunduran pekerjaan yang ditangani Ayah dan Ayah mungkin bakal berhenti atau pindah. Tetapi ketika cerita diteruskan Ayah, ternyata Ayah lebih banyak bercerita tentang toko itu, kemajuan-kemajuan si toko.

Karena pembicaraan Ayah tak seperti yang Upit bayangkan, ia heran dan ingin bertanya. Tetapi cerita seputar kemajuan toko tiba-tiba beralih kepada pemiliknya. Dan Ayah pun bercerita tentang sebuah keluarga, terhormat, kaya, dan sudah sejak lama memiliki perusahaan pengolahan kayu turun-temurun. Seluruh anggota keluarga itu adalah orang-orang sukses, termasuk si pemilik toko. Dan ketika kembali ke majikannya itu, Ayah menutup ceritanya dengan, “Tapi sayang, walau sudah hampir empat puluh, ia belum menikah.”

Waktu itu, mendadak, dada Upit berdebar. Dan kiranya, memang, seperti apa yang berkelebat tiba-tiba, Ayah dan Ibu kemudian minta agar Upit menikah, dengan si majikan. Si Abang, begitu orang-orang biasa menyebut si pemilik toko, kata Ayah, telah berkali-kali mengutarakan maksudnya ingin memperistri Upit. “Tetapi kami,” lanjut Ayah, “tentu tak bisa segera menjawab. Dan setelah mempertimbangkan benar-benar, akhirnya, kami putuskan … sebaiknya kita terima.”

Upit merasa seolah dunia dilanda gempa. Ia tiba-tiba jadi pusing dan berlari limbung ke kamar. Menikah? Kelas 2 SMU? Dengan si Abang? Upit tak yakin apa yang terjadi sungguh-sungguh nyata. Tetapi semua memang bukan mimpi, dan hari-hari kemudian adalah hari-hari yang cemas. Apalagi ketika tiba malam pertama itu. Upit benar-benar panik, tak tahu, tak ingin, dan serasa akan berteriak sejadi-jadinya. Tetapi ternyata Si Abang hanya menatap sekilas dan kemudian tidur membelakangi Upit. Saat itu, sungguh, Upit sangat lega. Tetapi mungkin malam besok, pikirnya.

Namun, malam besoknya (dan juga malam berikutnya), Upit masih juga dibelakangi. Mungkin di rumah baru, duga Upit. Tetapi ketika seminggu kemudian mereka pindah ke kompleks ini mendiami rumah sendiri, apa yang ditakutkan Upit ternyata juga tak terjadi. Malam itu Si Abang malah pulang sangat terlambat, dan dengan seorang lelaki. Setelah beberapa saat mereka ngobrol, Upit pikir lelaki itu akan pergi. Tetapi ternyata tidak.

Upit dibiarkan Si Abang tidur sendiri. Dan Si Abang, tidur di kamar bawah dengan si lelaki.

Ketakutan yang lain segera menyergap Upit. Sepanjang malam. Sepanjang malam? Tidak. Sepanjang tahun.

***

Lepas pukul 08.00, sampai nanti orang-orang mulai kembali pulang ke kompleks itu sekitar pukul 14.00, bagi Upit memang waktu yang lengang. Tak ada yang bisa ia lakukan. Hampir seluruh pekerjaan di rumah ini ditangani oleh Mak Ipah. Upit tak tahu sejak kapan perempuan separo baya itu jadi orang ‘kepercayaan’ Si Abang. Tetapi pastilah sudah sangat lama. Karena, dari cara ia melayani apa pun kebutuhan Si Abang, tampak sekali bahwa perempuan itu sangat paham. Jauh lebih mengerti dan tahu daripada Upit.

Satu-satunya hal tak penting yang bisa dilakukan Upit setelah pukul 08.00, mungkin hanyalah membuang sampah—sampah kamarnya sendiri—ke bak sampah sebelum tukang sampah muncul mengambil sampah sekitar pukul 09.00. Itu pun tak dapat setiap hari ia lakukan. Bukan hanya karena memang tak selalu ada sampah. Tetapi karena sejak tiga atau empat minggu belakangan, setiap kali Upit membuka pintu dan muncul di teras, ia merasa ada sepasang mata (dari rumah depan seberang jalan) selalu memperhatikannya.

Walau nyaris tak pernah bicara atau berkomunikasi dengan siapa pun, Upit tahu bahwa sekitar tiga bulan lalu rumah sederhana itu didiami oleh penghuni baru. Bukan sebuah keluarga. Tetapi hanya seorang lelaki. Lelaki aneh, pikir Upit setelah beberapa minggu sadar bahwa lelaki itu lebih banyak diam tinggal di rumah. Tak pernah Upit mendapatkan si lelaki, seperti umumnya lelaki dewasa (bapak-bapak) di kompleks ini, bergegas ke luar rumah sebelum pukul 08.00. Apakah pekerjaannya?

Upit tentu tak bertanya-tanya atau takkan begitu peduli pada lelaki itu kalau suatu hari si lelaki tak kedapatan tengah memperhatikannya. Di balik nako, gorden tersibak, dan lelaki itu lenyap tiba-tiba seperti malu bahwa Upit tahu. Dan seperti laki-laki itu, Upit tak kalah gegas, masuk ke rumah dan menutup pintu buru-buru. Seharian itu, beberapa kali berkelebat di kepala Upit peristiwa itu. Juga berkelebat beberapa dugaan. Dugaan buruk itu. Dugaan yang membuat Upit, setiap pagi, saat melepas Si Abang, selalu menekuk dagu takut-takut bersitatap dengan orang lain.

Walau tampak seperti tak ada gunjingan, Upit yakin seluruh penghuni kompleks sebenarnya tahu bagaimana sesungguhnya jenis perkawinannya dengan Si Abang. Bagaimana pun cara Mak Ipah menutup-nutupi, bapak-bapak yang duduk—sampai jauh malam—di kedai Pak RT di simpang jalan itu tentu pernah mendapatkan dan merasa aneh melihat Si Abang sering ‘memuat’ lelaki entah siapa di mobilnya dan kembali keluar pada dinihari mengantarkan lelaki itu entah ke mana. Bahkan mungkin mereka, bapak-bapak itu (atau siapa pun di luar sana), pernah mengendap-endap masuk ke halaman dan mendengar pula rintih dan erang Si Abang bersama lelaki entah siapa itu, yang oleh Upit sering terdengar begitu jelas sampai ke kamarnya. Tetapi, kenapa tak ada yang mempersoalkan? Kenapa tak ada di antara orang-orang itu, bapak-bapak itu (bahkan Pak RT!), pernah Upit dapati menegur Si Abang?

Sungguh Upit tak mengerti. Tetapi mungkin memang karena uang. Si Abang seorang dermawan. Upit tahu, bagi apa pun bentuk atau macam kegiatan sosial di kompleks ini, Si Abang adalah penyumbang terbesar dan utama.

***

Karena kaca gelap kamarnya tak tembus pandang, Upit merasa aman mengamati rumah sederhana di seberang jalan itu. Dan Upit jadi tahu, walau ia tak turun ke teras atau ke halaman, lelaki itu juga sering mengintip atau menatap ke rumahnya seperti mencari-cari bagai berharap menampak sesuatu. Membayangkan apa yang dicari-cari si lelaki, ketakutan Upit, kadang, disergap debar.

Pada jam-jam tertentu, selain merenggangkan nako dan menyibakkan gorden, lelaki itu keluar dan berdiri di teras. Ia meregang tubuh, memutar-mutar leher dan pinggang seraya menghela napas dalam-dalam seperti seorang yang berusaha lepas dari kepegalan. Di mata Upit, lelaki itu tampak bagai seorang yang baru selesai atau tengah mengerjakan suatu pekerjaan berat, dan kemudian berdiri di teras untuk sekedar mengendurkan saraf atau istirahat. Apakah yang dikerjakannya di dalam? Kadang oblong dan celana pendeknya tampak begitu lusuh. Kadang malah kotor dan tampak bagai dilumuri sesuatu seperti cat.

Takut, risi, malu, atau apa pun namanya yang Upit rasakan bila mendapat tatapan dari lelaki itu, kiranya hanyal awal. Tiga atau empat minggu ke depan, Upit mulai merasakan sesuatu yang lain. Mulanya ia kembali berani membuang sampah ke bak sampah walau diamati si lelaki. Tetapi sesudahnya Upit justru resah kalau tak ada sampah, dan ia sengaja mencari-cari atau membuat sampah agar memiliki alasan untuk turun ke halaman. Mulanya Upit gugup untuk balas menatap. Tetapi, senyum dan anggukan sopan lelaki itu, membuat Upit merasa ringan untuk juga bisa mengangguk.

Ada beberapa hari lelaki itu menyapa dengan senyum dan Upit membalasnya dengan anggukan. Saat angguk Upit mulai bisa diikuti senyum, suatu hari lelaki itu telah melangkah menyeberangi jalan dan Upit bagai terpaku saat meluruskan tubuh dari bak sampah.

“Saya Haris.”

“Ngng … Upit.”

Perkenalan yang aneh. Satu di luar pagar, satu di dalam pagar. Dan karena si lelaki telah beberapa bulan tinggal di situ, tidakkah sebenarnya mereka bertetangga? Tetapi keformalan dan kekakuan itu lantas cair di hari-hari berikut, terutama karena si lelaki ternyata seorang yang riang.

***

Lelaki itu, Haris, rupanya seorang pelukis. Pantaslah, dan memang tak salah kalau Upit mengira pada jam-jam tertentu itu Haris muncul di teras mengendurkan saraf. Pelukis? Sebuah dunia yang bagi Upit juga asing tapi tiba-tiba jadi menarik terutama karena penampakan Haris sehari-hari.

Haris, di mata Upit, tampak sangat mudah menikmati hidup, tak terikat (bagai tak terbebani) oleh bermacam hal. Bagi Haris, semuanya seperti ringan; enteng saja. Tak ada kesan bahwa lelaki, seperti yang selama ini Upit alami, seolah bangunan aturan yang membuat apa pun di sekelilingnya mesti berlaku pasti, dan tunduk. Lelaki ternyata juga memiliki perasaan, memiliki kemampuan menjenguk apa yang Upit rasakan. Dan yang sangat melegakan, lelaki ternyata bisa mendengar dan bahkan juga bisa mengerti tanpa Upit harus bersusah-payah—karena risi atau karena malu, misalnya—menceritakan.

“Menurutku, hal pertama yang harus kaumiliki mungkin keberanian.”

“Keberanian?”

“Ya. Misalnya, kauceritakan bagaimana sebenarnya Si Abang kepada ayahmu.”

“Mmm …”

“Atau, akan sangat baik kalau langsung ke orangtua Si Abang. Sumber persoalanmu, kukira, karena Si Abang tak ingin diketahui tak normal oleh keluarganya. Alasannya mungkin kehormatan keluarga. Kebesaran keluarga.”

Terbayang oleh Upit bagaimana ia dibawa Si Abang dalam acara-acara keluarga. Anak Tante A menikah, kakak istri Om B syukuran, anak adik istri Om C khitanan …. Memang, takkah hanya dalam hal-hal seperti itu Upit difungsikan?

***

Cepat sekali mereka akrab. Akan tetapi, rupanya, Mak Ipah segera tahu dan menegur Upit. Upit coba menerangkan, tetapi akibatnya, beberapa hari sesudahnya, Si Abang sendiri yang memarahi Upit. Si Abang mengancam: akan mengunci Upit di kamarnya.

Ada beberapa hari Upit tidak keluar. Namun, pada hari kelima atau keenam, Upit tak lagi tahan. Berteman, apa salahnya berteman? Dan lagi, keberanian yang dikatakan Haris mungkin takkan datang kalau tak dipupuk.

Maka, keakraban mereka pun kembali seperti biasa. Dan tanpa waktu-waktu khusus, sebenarnya. Mungkin di antara pagar itu sekitar pukul 09.00. Mungkin siang atau sore, ketika Haris muncul meregang tubuh di teras itu.

Namun, bagaimanapun, tentu ada waktu berkunjung. Dan kejadian itu pun tiba. Entah memang kebetulan, atau entah memang telah lama direncanakan Si Abang: Haris berkunjung tepat ketika Mak Ipah atau siapa pun tak di rumah.

Banyak sekali orang tiba-tiba datang, meradang-radang. Pak RT, Pak Sam, Pak Mon, Pak Eri, dan sejumlah bapak-bapak lain yang tak dikenal Upit. Juga beberapa pemuda yang sering tampak di kompleks kalau-kalau ada acara.

Semuanya menarik-narik Haris.

“Keluar!”

“Tak tahu malu!”

“Pengganggu istri orang!”

***

Seperti tiga bulan lalu, Upit berdiri menatap ke jalan dari balik kaca gelap itu. Di seberang, rumah sederhana itu kini kosong.

Tak ada lagi Haris. Mereka mengusirnya. Di bawah sana, di mata Upit, bagai kembali tampak lelaki itu digelandang ke rumah Pak RT seraya dicecar dengan makian. Terbayang pula bagaimana Haris meronta. Juga teriakannya, “Tak adil! Tak adil! Mana yang lebih penting?! Perkawinan—omong-kosong itu!—atau nasib seorang perempuan di dalamnya?!”

Upit menangis. Menangis, entah untuk kali keberapa.***

Payakumbuh, 1 Juni 2000