Cerpen Kurnia Effendi
Dimuat di Republika (10/24/1993)

MENJELANG akhir musim hujan, Kali Gung meluap. Arusnya yang bengis telah menyeret beberapa rumah penduduk Dukuh Salam, Kagok, dan Dukuh Sembung. Jembatan panjang yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan daerah wisata Cacaban runtuh ditelan banjir. Tragedi itu menjadi berita utama koran provinsi. Aku membacanya dengan perasaan giris.

Agak tergesa kutelepon rumah Bos. Berulangkali aku meminta maaf karena Bos baru bangun tidur. “Apakah Bapak sudah membaca koran hari ini?” ujarku hati-hati.

“Ada apa memangnya? Devaluasi? Inflasi? Demonstrasi? Atau?”

Kubacakan berita tentang banjir dan ambruknya jembatan besar Kali Gung yang terjadi di Kagok petang kemarin.

“Lantas?”

“Bukankah sudah tiga bulan kita tidak ikut tender proyek?”

“Ah, ya-ya! Aku tahu maksudmu. Datanglah lebih cepat ke kantor. Kalau bisa segera tugaskan orang-orang kita di Pemda dan Dinas Pekerjaan Umum. Cari informasi lebih lanjut. Aturlah semuanya!”

Aku mengiyakan.

“Jangan lupa, laporan pembangunan area wisata Guci dipercepat. Lengkapi dengan foto-foto!” Betapa lancar beliau memerintahkan sesuatu yang mengandung siasat. “Dana taktis dan biaya operasional bisa kalian ambil di Bagian Keuangan,” sambung Bos.

“Ya, Pak. Terimakasih.”

“Sebaiknya kamu cek ke lokasi, supaya tidak hanya tahu dari wartawan atau sumber lain.”

“Saya akan segera berangkat?”

Berangkat ke lokasi, berarti menengok kampung halaman. Tersayat perasaanku membayangkan musibah Kali Gung. Di lain pihak, posisiku kembali eksis. Dan para mandor yang membawahi hampir dua ratus pekerja tidak membuang-buang waktu lagi.

Bersama surveyor, kami bertolak ke tempat kejadian di Slawi, 160 kilometer jaraknya. Sepanjang jalan, perasaanku bernostalgia. Terutama ketika melewati jalan yang sejajar dengan pantai Laut Jawa. Berbaris-baris pohon kelapa dan matahari terik yang hangat, membuat berbagai ilusi masa lalu berlompatan.

Lewat tengah hari, jip kami melewati daerah ladang tebu di kawasan Pangkah, dan sampailah di lokasi bencana. Kami turun melihat air sungai yang masih pasang-naik. Sisa rangka jembatan separuh terbenam dalam air coklat yang mengangkut lumpur dari hulu. Aku bergidik. Mereka yang jadi korban, adalah saudara setanah-kelahiran.

Dulu, aku dan kawan-kawan suka mandi di kedung sungai itu. Sementara penduduk yang tinggal di sepanjang tepi sungai menambang batu, kerikil, dan pasir yang tak habis-habis. Biasanya, setelah banjir-bandang, batu-batu berlimpah kembali dan dianggap sebagai imbalan pengorbanan mereka. Padahal banjir itulah yang menggiring batu-batu itu dari perut gunung di hulu.

Kini lalu-lintas praktis terputus. Kami memotret, dan baru beranjak meninggalkan lokasi satu jam kemudian. Memutar jalan, berkeliling melihat daerahku di masa lalu, yang kini sudah banyak berubah. Daerah yang pernah membesarkanku, sebelum turut gerakan urbanis ke ibukota provinsi.

Pekan berikutnya, kantor Pemerintah Daerah dan DPU Kabupaten kelihatan lebih sibuk. Sebagian besar kegiatan berkisar mengenai rencana pembangunan jembatan Kali Gung di Kagok. Kontraktor lain pun telah melakukan survei dan berbuat sesuatu.

Bos memberitahu bahwa rapat khusus akan dilaksanakan di kantor kami. Melihat persiapannya, ada semacam ?konsumsi? istimewa. Aku berfirasat: kami akan menjadi pemenang tender!

Peserta rapat istimewa itu terdiri dari staf pejabat pemerintah, konsultan, serta beberapa tokoh masyarakat yang nampak bijak namun sedikit misterius.

“Kita tidak ingin masyarakat terus-menerus ditimpa kesulitan! Ambruknya jembatan utama membuat transportasi macet. Hal itu mempengaruhi kondisi ekonomi kota yang sedang berkembang, juga menyusahkan rakyat kecil. Pada akhirnya, proyek pembangunan jembatan hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu untuk karir dan kekayaan pribadi. Kita tentu kurang setuju dengan teror semacam ini,” ujar seseorang yang mewakili pihak Pemerintah Daerah.

“Kita diberi alternatif yang lebih sederhana,” kata salah seorang tokoh masyarakat. “Sepasang pengantin-baru akan membuat jembatan itu tahan lama. Kita atur skenarionya sebaik mungkin. Usahakan selesai sebelum musim hujan berikutnya.”

Ketakmengertianku mengenai isi pembicaraan itu tidak kutunjukkan. Apalagi Bos memperkenalkan aku sebagai Project Manager, dengan uraian curriculum vitae yang agak berlebihan.

Empat bulan telah berlalu, setelah kami menerima keputusan sebagai pemenang tender. Kini, tiang-tiang jembatan-baru yang terbuat dari rangka baja raksasa dan benteng pondasi batu-gunung pun hampir selesai. Sungai mengalir jinak, menanti janji pengganti jembatan yang roboh oleh ?perangai?-nya yang buruk. Di salah satu ujung tiang jembatan, tampak pemilik warung nasi sibuk melayani sekitar seratus pekerja.

Kutinggalkan Direksi Kit, dan turun ke lapangan. Kalau benar ini hari terakhir penyelesaian tiang jembatan, tentu hari terakhir pula bagi kami untuk ngobrol dengan sepasang suami-isteri pengantin-baru pemilik warung itu. Aku ingin membagi kegembiraan, sebagai ?upacara? perpisahan.

“Baru kawin dapat borongan besar. Itu namanya kejatuhan bulan, Yu!” kata seorang kuli yang makan nasi dengan semur jengkol. “Mau pelesir ke mana kalian nanti?”

“Wah, mendingan untuk nyewa warung dekat pasar, Kang.” Perempuan warung yang bertubuh singset itu itu tersipu. “Pasang-surut rejeki seperti Kali Gung. Jadi jangan suka foya-foya.”

“Setelah jembatan ini rampung, kalian bisa membangun rumah,” kata yang lain membenarkan, seraya minta tambah nasi.

“Mudah-mudahan, Kang. Mandornya baik-baik. Bayarannya selalu tepat waktu. Kapan selesainya ya, Kang?” tanya suami pemilik warung.

“Tergantung pemborongnya. Tapi ini lebih cepat dari jadwal. Besok semua benteng jembatan harus sudah jadi,” seorang mandor bagian pengecoran menjelaskan. “Sampeyan mesti pindah ke atas.”

“Waduh, kalau begitu besok mesti bikin tenda baru,” perempuan warung itu menoleh suaminya.

“Jangan khawatir. Kita bikin seperti warung tukang es dawet yang di sana, sebentar juga jadi.” Ditepuknya pantat isterinya, yang refleks mengibaskan tangan.

“Rokoknya yang biasa, Yu! Dua bungkus,” kataku menyela kesibukan mereka. “Dengan koreknya sekalian. Ini uangnya.”

“Kembalinya belum ada, Pak,” ujar perempuan warung itu melihat lembaran uang dengan nominal terbesar di tanganku. “Banyak yang ngebon.”

“Ya, sudah, nanti saja.” Kuterima rokok dan menyalakan sebatang. Kuhisap sambil memandang air sungai selebar enam puluh meter yang mengalir tenang. Kesibukan lalu-lintas berlangsung di jembatan darurat, berjalan perlahan, bergantian arah.

“Oh ya, kalian nanti bikin nasi lagi yang banyak. Malam ini semua orang bekerja lembur dan tidak boleh berhenti. Jadi makan malamnya diajukan menjadi sore hari.”

“Waduh, kapan ngasonya?”

“Nanti malam kalian bisa tidur pulas. Tak akan ada yang mengganggu,” kataku menghibur. Ya, tidur nyenyak! Itulah yang kami harapkan. Namun tak urung gemetar juga perasaanku.

“Tidur lho, Yu! Bukan nggarap yang lain,” celetuk seorang mandor. Terdengar riuh tawa yang lain dengan nada erotik.

***

Dekat senjakala udara beranjak dingin. Serangga mulai menyanyi. Gemuruh sungai mengalir bagai memanggil-manggil. Sesuai rencana, semua pekerja, mandor, tukang dan kuli, makan sebelum langit gelap. Begitu ramai suasana di bawah jembatan. Dalam sorot sinar petromak dan lampu dari gen-set, suami-isteri pemilik warung kembali sibuk. Sebentar lagi keletihan menyergap dan mereka berdua akan tergolek di sisi lincak, di atas tikar. Dalam musik ritmis arus sungai, sebuah dunia lain akan menjemput.

Seratus orang pekerja mulai menyebar, dengan tugas masing-masing yang sudah mereka pahami. Matahari telah lenyap. Warung pun sepi, tinggal pemiliknya yang meringkuk kelelahan. Sementara pedagang lain sudah sejak sore meninggalkan area proyek.

Aku naik ke atas tanggul. Kupanggil para mandor. Hanya kepada mereka detail skenario dibeberkan dan dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab. Semua merupakan perintah atasan, dengan taruhan bonus istimewa di akhir proyek.

Kuperintahkan mereka bekerja rapi dan tidak ragu-ragu. Sebelum fajar, tiang jembatan tempat berlindung warung itu harus sudah selesai.

Aku kembali ke Direksi Kit. Dari jendela kulihat semua tukang, kuli dan mandor, siap bekerja. Seseorang menyorotkan lampu senter ke arahku, tanda suami-isteri pemilik warung telah tertidur pulas. Mereka sengaja dibikin luar biasa letih, supaya tidak terjaga ketika dinding batu mengepung warungnya. Kulihat branjangan kawat baja mulai dipasang. Mesin-mesin pengaduk cairan beton berputar. Batu-batu sebesar tiga kepala manusia dijatuhkan dari atas ke dalam jaring kawat!

Angin yang bertiup melalui jendela, membasuh keletihan badanku seminggu terakhir ini, membuat mata terasa berat. Menjelang tengah malam sempat kulihat batu-batu terakhir menyempurnakan sisi tiang jembatan, hingga tidak tersisa rongga. Dan warung beserta isinya itu pun terkubur. Kantuk yang kuat segera melindas, kemudian tak kuingat apa-apa lagi.

Aku terlelap dengan sejumlah mimpi yang kusut. Ketika terjaga, tak lagi kudengar suara arus sungai. Tidak lagi kudengar jerit serangga di luar. Sunyi yang mencekam itu sungguh mengganggu perasaanku.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu Direksi Kit, yang membuatku benar-benar sadar, dan jantungku berdetak cepat. Kulihat jam: astaga, pukul tiga pagi! Kuusap mata yang terasa tebal.

Terdengar lagi ketukan di pintu. Aku menggeliat dengan punggung sakit. “Siapa?” suaraku masih parau. “Masuklah!”

Aku bangkit dan terkejut bukan main begitu melihat seseorang yang datang. “Kau??!” Lututku mendadak gemetar.

Tamu itu: laki-laki pemilik warung! Bukankah ia tidur dalam rongga tiang jembatan? Terkurung batu bersama isterinya?

“Maaf Pak, saya mengganggu. Ini kembalian uang Bapak tadi siang.” Laki-laki itu meletakkan segenggam uang di meja. Aku memandangnya tanpa sanggup bicara. Tenggorokanku tersumbat. Keringat dingin membasahi seluruh punggung. “Permisi, Pak.”

Pemilik warung itu keluar dan menutup pintu kembali. Tubuhku lemas luar biasa. Ketakutan pun menjalar cepat. Aku berusaha membuka pintu, namun terkejut karena terbentur dinding batu! Dengan panik aku berlari ke jendela, tapi tak kulihat apa-apa selain susunan batu yang padat, masif, dan dingin! Kupukul-pukul tembok batu yang tetap bergeming, membisu. Aku pun berteriak kalut. Suaraku terpantul-pantul dalam ruang sepi. Menimbulkan gaung yang mengerikan!

Aku terus berteriak. Terus berteriak! Hingga habis suara dan kedua tanganku penuh darah akibat benturan dinding batu yang kasar. Sampai kemudian terdengar sayup-sayup suara arus Kali Gung yang begitu merdu. ***

Cerpen ini dimuat di Republika Minggu, tanggal 24 Oktober 1993,

semacam hadiah ulangtahun untuk diri-sendiri.