Cerpen Bre Redana
Dimuat di Nova, Tabloid (04/02/2000)

Stasiun Mbalapan, tanggal pitu, sasi songo, sewu sangangatus pitungpuluh siji… (Stasiun Balapan, tanggal tujuh, bulan sembilan, seribu sembilan ratus tujuh puluh satu…) WARTOLOYO, Wartoloyo… Dia asli Solo. Tempat tinggalnya semasa kecil di dekat kali Bengawan Solo. Orang tuanya seorang guru, memberinya nama Suwarto (kebanyakan nama orang Jawa berawalan “Su”, jadi bisa menjadi Sumarno, Suheru, Sumulyadi, dan lain-lain) dengan harapan bahwa anaknya kelak bakal menjadi “juru warta” alias wartawan. Cita-cita orang tua itu berhasil. Suwarto kemudian memang menjadi wartawan di Jakarta. Namanya dia ubah sendiri menjadi Wartoloyo, karena katanya sukses hidupnya dikarenakan wangsit yang didapatnya di makam terkenal bernama Bonoloyo. Gabungan Suwarto dan Bonoloyo menjadi Wartoloyo.

Edan… Yang melekat terus dalam diri Wartoloyo memang sifatnya yang edan-edanan. Tak berubah pembawaannya. Meski kini ia terbilang sukses sebagai wartawan, memiliki penerbitan yang digemari banyak orang, hidup pribadinya cukup “wah” dengan beberapa mobil di garasi rumah, Warto tetaplah Warto yang dulu: berpenampilan sederhana dengan baju selalu dikeluarkan, sepatu sandal, rambut agak awut-awutan. Rumahnya yang besar dan terawat oleh beberapa pembantu, menjadi persinggahan sanak-saudara dan teman lama ketika masih di Solo. Tak ada yang tidak betah tinggal di rumah Warto. Beberapa di antaranya bahkan setengah menetap di situ. Warto masih tetap membujang. Tentang hal ini, ia selalu berucap, “Belum diberi jodoh oleh Gusti.” * * *

WAKTU sudah berlalu lama, dari kejadian di kala itu. Ada kisi-kisi hidup, yang kadang tak diperhitungkan banyak orang. Di Solo, ada stasiun kereta api terkenal, bernama Stasiun Solo-Balapan (orang setempat menyebutnya “Mbalapan”). Wartoloyo punya pengalaman indah di situ, yang sampai kini terus dikenangnya, bahkan ia ingat sampai ke tanggal-tanggalnya. Tanggal 7 September 1971 –jadi sekitar tiga puluh tahun lalu, waktu itu dia masih SMA– Wartoloyo berkenalan dengan gadis Jakarta yang tengah berlibur di Solo. Hubungan mereka singkat, tak lebih dari seminggu tatkala gadis itu berada di Solo. Juga tidak terjadi semacam “roman yang kelewat batas”. Jangan, jangan berpikir sejauh itu. Mereka hanya bertemu beberapa kali, dan yang paling hebat dalam ukuran Warto masa itu, bahwa ia bisa mengajak gadis ini nonton film di gedung bioskop Ura Patria di perempatan jalan utama kota Solo. Filmnya tentu juga bisa ia ingat, yakni Pengantin Remaja karya Wim Umboh yang menyajikan banyak mimpi Jakarta.

Sehari setelah itu, gadis ini pulang ke Jakarta. Warto mengantar ke Stasiun Solo-Balapan petang hari. Si gadis berjanji akan berkirim surat. Warto trenyuh hatinya. Kereta bergerak. Tiba-tiba Warto merasa ada yang hilang. Ia merasa tak pernah mengenal perempuan seperti ini. Kulitnya bersih, sikapnya menumbuhkan keberanian dan harapan Warto remaja, yang tanpa basa-basi ajakannya nonton film segala diterima begitu saja. Banyak temannya kala itu, di mata Warto penampilannya tak seberapa dibanding tokohnya dari Jakarta ini, justru jual mahal luar biasa. Warto termangu-mangu di lantai stasiun. Air matanya meleleh… * * *

KALAU mengenang peristiwa ini, Wartoloyo ingin tertawa. Waktu itu dia menjadi memandang sebelah mata teman-temannya, dari si Brigita Iswari, primadona di sekolahnya, Santi, sampai ke Sarintol yang rumahnya tak jauh dari rumah Wartoloyo. Ia hanya melulu teringat gadis Jakarta-nya, yang alamatnya dia tulis baik-baik, di daerah Berlan Jakarta Pusat. Hanya saja, kemudian surat gadis itu tak kunjung diterimanya. Ia telah menyurati berkali-kali, jawaban tak diterimanya juga. Ketika nasib membawanya ke Jakarta, entah setelah berapa tahun kemudian, sadarlah Wartoloyo, di Jakarta ini semua hal bisa terlupakan begitu saja. Kesibukan dan keramaian Jakarta yang begitu luar biasa, bisa menelan apa saja, termasuk ingatan dan memori manusia. “Ha ha ha… Apalah artinya Stasiun Balapan,” kata Wartoloyo. “Secuil kejadian itu pasti langsung menguap bersama asap knalpot bus kota, hilang terselip di tengah keriuhan Pasar Senen, kampung yang berdesakan, alamat di Berlan yang persisnya sekarang entah di mana,” begitu pikirnya. Hanya saja, kalau keluar di jalan raya Jakarta, kadang ia berpikir sembarangan, siapa tahu bertemu dengan si gadis itu. Kalau ketemu, seperti apa, ya, kira-kira dia sekarang? Bukankah kita kadang juga berpikir mengenai gadis yang pernah kita puja di saat remaja, seperti apakah dia sekarang? Mungkin dia kita kenang kecantikannya, sementara kenyataannya, ia telah menjadi seperti tong… * * *

WARTOLOYO telah menjadi bagian keriuhan Jakarta yang menelan semua memori kota kecil. Sikap berpikirnya yang kritis menilai pikirannya sendiri, menjadikannya sadar betul mengenai hal itu. Oleh karenanya, dia coba mempertahankan diri dengan tetap menjadi Wartoloyo yang dulu, yang semasa remaja suka menulis catatan harian (itulah sebabnya soal tanggal segala tadi dia ingat), yang pernah merasa tercuil sebagian hatinya ditinggal gadis Jakarta di Stasiun Solo-Balapan. Sementara, cuilan hati yang dibawa naik kereta api tadi, ternyata tak ada artinya apa-apa bagi si gadis Jakarta dulu itu, yang barangkali membuangnya di tong sampah atau di mana saja di selokan pinggir jalan. Gadis itu, mungkin waktu itu langsung tidur dengan pacarnya… Begitulah, sekelebat mimpi remaja sering masih melintas di benaknya. * * *

Akan tetapi, hidup memang kadang diselingi hal tak terduga. Wartoloyo yang awet muda, tetap bergaya hidup seperti semasa SMA maupun masa mahasiswa sementara teman-temannya yang tinggal di Solo telah berangkat menjadi orang tua, anak mereka umumnya sudah menginjak dewasa, bertemu dara remaja yang mengingatkannya pada kenangan Stasiun Solo-Balapan. Anak Jakarta yang manis berusia belasan tahun ini –yang sebagaimana remaja lain di Jakarta yang mulai keluar masuk kafe– dikenalnya di sebuah kafe di kawasan Kemang Jakarta Selatan. Gadis itu kenalan teman Wartoloyo –si gadis memanggilnya Om– dan kemudian duduk bergabung di meja Wartoloyo.

Begitulah perkenalan terjadi, dan hubungan berlanjut. Kurang terbayang sama sekali oleh Wartoloyo, yang di Jakarta ini kemudian juga gonta-ganti pacar tidak karuan, akan berpacaran dengan gadis belia, yang usianya terpaut jauh darinya. Kali ini hubungan benar-benar lengket. Ke mana-mana mereka berdua. Bisik-bisik menyebar ke mana-mana di lingkungan kenalan Wartoloyo: siapa, sih, cewek cantik yang selalu bersama Mas Warto? Wah, Wartoloyo bangga luar biasa. Kadang diajaknya gadisnya ke Purwakarta, tempat pembuatan keramik –hobi Mas Warto yang baru. Ibu si gadis, seorang janda, entah bagaimana, mencoba mengingat-ingat, lelaki teman anaknya itu sepertinya pernah dikenalnya. Dengan susah payah, dibangunnya ingatannya kembali, ketika ia masih punya saudara di Solo, yang ketika ia duduk di bangku SMA dulu pernah didatanginya, sekaligus melihat kota Solo yang waktu itu belum pernah dilihatnya. “Hah, bukankah dia yang mengantarku ke stasiun dulu itu?” begitu ingatannya samar-samar menemukan bentuk. “Hah?” Wartoloyo tak kalah kaget. Mereka teringat cerita lama. Sebuah kejadian yang mirip teledrama, tapi sungguh mati benar-benar terjadi. Ketiganya melongo. Stasiun Balapan, Stasiun Balapan… Jakarta, Januari 2000 *

Seluruh cerita ini terinspirasi oleh lagu-lagu karya Didi Kempot yang tergabung dalam album Stasiun Mbalapan.