Cerpen Kurnia Effendi
Dimuat di Koran Tempo (04/08/2001)

PERASAANKU dibungkus kesunyian luar biasa. Dua jam termangu dalam kamar yang memiliki lebih dari seratus warna dan aroma cat minyak. Ada jendela terbuka ke arah sungai, tempat mengalir udara segar. Termasuk suara belalang dan kerisik bunga rumput. Hanya pada bidang itu, aku tak bisa melukis apa pun. Di seberangnya terdapat langit, yang mudah berubah rona. Hijau daun, merah senja, atau sesekali lintasan burung. Tapi sejak pameran terakhir, jendela itu belum menyumbangkan kegairahan.

Apakah harus menyesal, ketika mendapatkanmu di ruang pameran? Mula-mula yang kulihat adalah punggungmu. Engkau memandang lukisan yang mungkin menyemburkan sejumlah episode masa lalu, tentang hubungan kita yang lebih banyak melalui surat. Separuh dari kenangan itu masih tersimpan, untuk sewaktu-waktu kubaca ulang. Sebagian yang lain menjadi lukisan dalam berbagai ukuran.

“Aku senang kamu sempat datang,”

Kamu menoleh dan memandang dengan rasa bersalah. Seakan-akan perlu undangan resmi, dan ditegur karena berada di tempat yang ? barangkali ? mustahil.

Galeri Soemardja memang kecil. Dalam sekejap bisa kulihat semua yang hadir hanya dengan memutar kepala. Mereka bukan orang asing. Beberapa dosen, mahasiswa senirupa, dan kawan-kawan yang selama ini demikian dekat. Sehingga tentu segera kukenali dirimu, bahkan hanya dengan hembusan parfummu. Sesuatu yang tak berubah sejak bertemu muka, sekitar lima atau enam tahun lalu.

“Kau memang tidak mengundangku,” katamu, tidak tampak kaget. Kita bergenggaman tangan. Berjuta bingkai diorama berputar. Gambar yang meloncat-loncat. Sejak Braga Permai, Concurrent Jewelery, Kafe Datumuseng, Pantai Losari, Somba Opu, sampai Benteng Fort Rotterdam?

“Padahal, ini hampir semua tentang kamu.”

Engkau menghela nafas panjang. “Aku tahu. Tapi mungkin ini bukan waktu yang tepat buatku.” Kamu seperti ingin menghindar. Mengkhawatirkan sesuatu. Aku pun merasa tak bisa berbuat banyak, meski segera kutangkap tanganmu.

“Kita harus merayakan pertemuan?”

“Maaf, Mas, ini pasti di luar perkiraanmu. Mungkin lebih baik?”

“Please,” kuperkeras genggamanku. “Kau bahkan belum memberitahu kapan datang dan di mana menginap.”

Beberapa kawan muncul silih-berganti, menjabat tangan, mengucapkan selamat. Ini memang hari pertama pameran “Sepanjang Braga” dibuka. Tema yang seharusnya kukonfirmasi kepadamu. Tapi aku bimbang. Hal-hal yang menyangkut perempuan lain bisa jadi aneh dan mengerikan untuk dibahas. Apalagi tentang pelukis dan pecinta lukisan. Aku hampir tak membicarakan dengan isteriku. Padahal perasaanku santai saja jika sesekali kugambar model perempuan telanjang di studio.

“Sepanjang Braga,” kau bergumam begitu aku terbebas dari kawan-kawan. Kilatan cahaya blitz kadang-kadang melampaui kepala kita. Seperti benderang lampu petir yang mengerjap di langit petang, saat kita diguyur gerimis di Jalan Braga. Saat itu, di antara kita belum ada siapa pun. Andaikata dada kita transparan, mungkin terlihat kembang api jingga setiap kita bicara. Karena yang terlompat dari mulut, meski terdengar seperti perdebatan, adalah upaya saling menggosok batu api. Sejak itu, setelah komunikasi terdiri atas berlembar-lembar surat, tumbuh perasaan saling menyayangi.

“Aku akan datang ke tempatmu, apakah nanti malam punya waktu?”

Kau tersenyum. Seperti menyindir. Tapi juga menyiratkan kebijaksanaan. “Seharusnya aku yang tanya, apakah kau punya waktu? Kau tahu, aku belum terikat siapa pun. Setidaknya sampai hari ini. Tapi, it?s okay, kau bisa telepon dulu. Aku menginap dekat Dago Tea House.” Kau memberiku sebuah kartu nama guest house.

Sejak kutulis tentang Chiara, dulu, muncul nuansa lain dalam hubungan kita. Aku merasa: ada seseorang yang juga dekat denganmu. Meskipun tidak kauceritakan, kecuali ketika putus menjelang tunangan, justru setelah aku menikah.

“Aku jatuh hati sejak pandangan pertama,” demikian suratku. “Ia seorang pembaca puisi, pasti memiliki apresiasi yang kuat tentang seni. Beberapa kali kukirimi sketsa, tapi tidak tahu apakah dipasang di kamarnya?”

Waktu ngoceh seperti itu, aku lupa, bagaimana perasaanmu? Seolah-olah engkau ibuku. Terlebih ketika nada suratmu biasa-biasa saja. Bahkan mendorong untuk meraih setiap harapan. “Memang sudah waktunya, Mas. Kudoakan semoga berhasil. Aku yakin, dia pasti cantik.” Cantik memang relatif, seperti halnya lukisan.

Kabarku masih terkirim dengan rentang makin panjang. Lantas lama tidak bertukar kabar. Saat itulah aku kembali suka berjalan-jalan di sepanjang Braga. Tidak dengan Chiara. Seringkali justru bersama Acep Zamzam Noor, Diyanto, atau Tia Lesmana dan Soni Farid Maulana. Di tempat itu, juga di tempat lain, aku ingat kau. Ingat pertemuan yang hanya beberapa hari tapi bagai berbulan-bulan. Ditemani gerimis, jarum air yang menabur rambut kita, dan cahaya senja yang memantul dari dinding pertokoan Braga. Kita pernah berteduh di Majestic, menertawakan pasangan yang mencuri kesempatan dalam gelap bioskop. Rasanya percakapan kita sangat berbeda. Aku suka marah oleh kritikanmu. Belakangan kusadari, semua itu membentuk kekuatan goresan, karakter yang kini dibicarakan banyak orang.

“Bagaimana kabar Baby?” Pertanyaanmu membuyarkan lamunan.

“Oh, ia mulai sekolah. Kelas bermain.”

“Aku masih menyimpan fotonya waktu bayi. Hampir tiga tahun lalu. Betapa bahagianya Chiara. Apakah ia masih sibuk dengan jasa-boganya?”

“Ya, apalagi ini musim menikah. Sementara kau masih sendiri, sejak berpisah dengan pemuda dari bursa effek.” Aku mengambil dua cangkir teh. Kita minum sambil berdiri.

“Bukan keinginanku. Tapi mudah-mudahan itu yang terakhir.”

Terkadang aku kagum padamu, karena tidak serapuh dugaanku. Waktu kau ceritakan patah hati yang pertama, tersirat ungkapan syukur. Sambil menikmati pisang epek di pantai Losari, kita berbagi kisah. Ada semacam keajaiban. Setelah lama saling bersurat, kegiatan budaya mempertemukan kita di Bandung. Catatanmu yang melukai perasaan di buku tamu pameran lukisan, telah memaksaku terbang ke Ujungpandang. Begitu tiba di teras rumahmu, pertanyaan pertama yang muncul adalah: “Bagaimana kabar Braga?”

“Aku sedang menggarap semacam proyek tentang Braga. Rasanya tak akan sempurna tanpa diskusi denganmu.”

Kini, seratus lukisan telah selesai. Seperti yang kujanjikan pada diri sendiri. Hanya Chiara dan Baby yang jadi saksi prosesnya. Atau satu-dua kawan dekat. Aku memang mengerjakannya setengah diam-diam.

“Oke, aku pulang dulu,” katamu, sambil mengambil selembar katalog dan memasukkan ke dalam saku blazer.

“Tidak mengikuti diskusi? Pak Pirous dan Bang Hardi yang bicara.”

Kamu menggeleng. “Aku banyak urusan,” tersenyum dan pergi menjauh. “Jangan lupa, telepon dulu.”

Kulambaikan tangan, sebelum bergabung dengan peserta diskusi di ruang Bulu Domba. Seorang moderator mendekat, mengkonfirmasi biodata. Sepuluh menit kemudian acara berlangsung, dan baru berakhir pukul dua. Semalam aku hanya tidur sekitar tiga jam. Akumulasi keletihan itu sangat terasa begitu sampai di rumah.

Rupanya aku menyimpang dari perjanjian. Selepas petang kukatakan pada Chiara: seorang wartawan asing ingin berjumpa di Dago Tea House. Aku langsung melaju ke penginapanmu. Di ruang tamu yang temaram, kau main piano sendirian. Baru kali ini, sepanjang kita kenal, kulihat kau mengenakan baju tidur warna pastel.

“Kenapa tidak telepon dulu, Mas?” tanganmu terangkat dari tuts piano.

“Apa bedanya? Toh kau ada di tempat.” Aku membanting diri di sofa.

“Kita mau bicara di sini atau di kamar?”

“Apa bedanya? Yang penting isi pembicaraannya, bukan tempatnya.”

Tapi sebuah dorongan bawah sadar membawa langkahku ke dalam kamar. Kau hendak ganti baju yang pantas untuk menerima tamu. Namun peristiwa yang berlangsung kemudian berbeda. Sangat berbeda. Sungguh di luar seluruh pikiran-pikiran kita selama ini. Ke mana jalinan persahabatan itu?

Mungkin ini percintaan paling panas. Kita bagai berenang di antara ombak biru, di bawah matahari tropik, dengan angin pesisir yang berarak-arak. Pulau yang ditempuh masih jauh di ujung cakrawala. Timbul-terbenam, diayun buih samudera. Kita memburu dan mengejarnya, ingin meraih. Namun perjalanan bagai tak hendak selesai sampai nyaris tenggelam, dan tiba-tiba kudengar lengking panjang. Kutangkap tanganmu, matamu terpejam dengan kelopak bibir terbuka, tersenyum. Wajahku terasa hangat dan basah kuyup?

Tangis itu terdengar lagi. Tapi bukan dari mulutmu. Suara itu dekat dengan telinga, membuatku terjaga. Aku terperanjat menangkap warna-warni lukisan.

Ya Tuhan, ini mimpi! Tapi wajahku benar-benar basah dan hangat. Dalam keremangan senja, celah jendela memberikan sedikit cahaya. Kulihat Baby terisak dengan mata masih terpejam.

Anakku ngompol! Kucoba mengingat asal-usul kejadian ini. Ya. Keletihan membuat aku tergeletak di atas karpet ? satu-satunya tempat dalam studio yang bebas tetesan cat. Sebelum lelap, Baby memanggilku, mendekat dan berbaring dekat kepala.

Astaga, jam berapa ini? Aku punya janji denganmu! Apa yang baru kita lakukan dalam mimpi? Kugunakan T-shirt untuk mengusap pipis Baby di wajah, sebelum kubangunkan dia. “Kenapa ngompol lagi, sayang? Ayo kita mandi.”

Kulihat Chiara sedang menerima telepon di ruang tengah. Ia memberi isyarat dengan tangannya. Aku mendekat. “Ada seorang kolektor Filipina hendak memborong semua lukisanmu. Mau langsung bicara dengannya?”

Kesadaranku belum pulih benar. Tapi ini mengejutkan. Sekaligus terdengar mustahil, seperti mimpi yang baru saja berakhir. “Aku akan menelepon kembali, minta nomornya. Lihat! Baby ngompol.”

Chiara tertawa sebelum memasang kembali gagang telepon ke telinganya. Sepanjang siraman air shower, berdua Baby, aku belajar percaya kabar aneh itu. Seorang kolektor memborong seluruh koleksi “Sepanjang Braga”! Apa katamu nanti? Chiara seharusnya tidak hanya berunding denganku, tapi juga denganmu. Tapi, apa itu mungkin?

***

MALAM telah larut ketika akhirnya aku menemukan suaramu di telepon penginapan. “Ke mana saja?” Aku kesal. Tapi bukan hakku untuk memintamu tetap berada di tempat yang aku mau.

“Sorry, Mas. Seseorang mendadak mengajak makan malam. Aku memang tidak menelepon, karena satu dan lain hal. Aku ingin bahagia, seperti juga kau, Mas. Dan kebahagiaan kita tidak perlu mengganggu kebahagiaan orang lain.”

“Aku mencarimu. Pertama, karena janji tadi siang. Tapi ada yang lebih penting. Seluruh lukisan “Sepanjang Braga” dibeli seorang kolektor. Aku? aku bahkan belum pernah mengenal orang itu.”

“Lalu?”

“Aku harus minta ijinmu. Sebelum kupikir bahwa ini sesuatu yang hampir tidak masuk akal. Koleksi itu seharusnya tidak pernah dijual.”

“Itu tidak rasional, Mas. Apa kata Chiara nanti?” Benar katamu. Jika seratus lukisan itu hanya untuk disimpan, akan menimbulkan pertanyaan dan layak diusut. Berapa puluh juta rupiah investasi dan waktu yang tertimbun di dalamnya?

“Ini memang pilihan yang sulit.” Aku mengeluh.

“Tapi, benarkah kau hendak meminta ijinku?” tanyamu untuk meyakinkan.

“Tentu. Aku tak ingin melakukan kesalahan dua kali.”

“Jangan merasa bersalah, karena memang tidak bersalah.”

“Setelah seratus lukisan itu terjual, aku mungkin tak punya lagi kenang-kenangan itu. Cobalah mengerti perasaanku.”

“Aku sangat mengerti perasaanmu, Mas. Pertanyanku, benarkah kau meminta ijinku?” tanyamu manja.

“Ya.”

“Aku seratus persen mengijinkan, Mas. Aku tak keberatan kau menjual semuanya. Tapi sebaiknya kau bertemu dengan pembelinya, sebelum ia membawanya pergi. Pameran masih berlangsung tujuh hari lagi, bukan?”

Aku terdiam. Bukan oleh suara gerimis di luar. Aku merasa pilu mendadak. Sangat tidak menduga, engkau merelakan nostalgi tentang kita dibawa orang. Kita tak punya apa-apa lagi. Mungkin aku menyesal telah memasang price list dalam katalog.

“Mas, boleh aku tidur? Besok aku harus pulang ke Ujungpandang.”

“Secepat itu?” Aku terkesiap. Putus asa. “Aku jadi ragu. Kenapa kau?” Kupikir aku lebih cengeng dibanding perempuan mana pun di dunia. Kau, pemilik separuh kenangan, sudah tidak mempersoalkan hal-hal yang sentimentil. Mengapa aku bertahan pada ilusi yang hanya mirip guratan nama di daun kaktus? Atau pada poci keramik yang kelak retak seperti kata Goenawan Mohamad?

“Aku minta maaf,” katamu berbisik.

“Ya,” tak ada lagi yang harus dibicarakan. Kututup telepon dengan kecewa.

Kuhampiri Chiara yang meringkuk di ranjang. Kuletakkan badanku pada sprei yang masih rapi, telentang, memandang langit-langit. Tubuh di sampingku berbalik. Dalam ketidaksadaran ia mendesakkan wajahnya ke leherku. Dan kupeluk sebuah kenyataan.

Barangkali tak pernah kupejamkan mata sampai pagi datang. Aku menjadi sedikit pendiam, namun tidak menarik perhatian Chiara. Sehabis sarapan, telepon berdering, dan Chiara mengatakan tentang kolektor Filipina itu. Aku hanya memberi anggukan, tanda setuju.

Selesai bicara, wajah Chiara berseri-seri. Ia menciumku dengan hangat. “Hampir setengah milyar! Empat ratus delapan puluh enam juta, setelah dipotong PPh.” Ia tidak merasakan, alangkah hancur hatiku. Tapi buat apa? Aku tidak ingin merana sendirian. “Ia bilang, nanti siang ditransfer. Lukisan akan dikemas hari Minggu, setelah penutupan. Baby?! Baby?! Ayo beri selamat kepada Ayah!”

Gadis kecil itu meloncat ke pangkuan. Kupeluk dia dan seolah-olah aku mendapatkan pengganti dari semua yang hilang.

Chiara pamitan ke kantor, Baby berangkat ke Tadika Puri. Aku terdiam di kursi, mendengarkan rekaman Tony Prabowo. Membayangkan gelas-gelas yang ditabuhnya pecah berkeping-keping. Menggambarkan perasaanku. Aku terbius. Sampai kudengar teleponmu dari bandara.

“Sepuluh menit lagi aku berangkat. Sorry, aku memang tak ingin diantar. Aku tinggalkan kartupos dan undangan di receptionist galeri. Apa rencanamu hari ini, Mas?”

Nada suaramu menunjukkan kelegaan, bahkan kegembiraan. Sungguh ganjil, atau menyakitkan? Membuatku meradang: “Apa yang kautulis dalam kartupos itu? Banyak orang bisa membacanya!”

“Yang paling kaucemaskan pasti jika Chiara melihatnya, bukan?” Kudengar kau tertawa, di antara gemuruh suara pesawat yang landing. Aku merasa baru mengenalmu. “Aku cuma memberitahu bahwa “Sepanjang Braga” sudah jadi milikku. Seluruhnya, Mas! Feliciano membelinya untukku, sebagai maskawin, atau kami tidak menikah sama sekali. Kaget? Maaf, aku tak mungkin bilang dari awal, karena aku sulit melupakanmu. Aku hanya ingin semuanya beres, sejak kubaca berita budaya di koran. Pameran itu pasti untukku, tanpa kau memberitahu?”

“Ya, Tuhan?” Aku terperangah.

“Benar, itu memang kehendak Tuhan. Itulah sebabnya aku harus segera pulang ke Ujungpandang, untuk menyiapkan pesta sederhana. Aku tak boleh ingkar dan menyakiti hati Feliciano. Semua syarat telah dia penuhi.”

Bagai ada segelas embun yang melintas ke tenggorokan. Mungkin aku benar-benar kehilangan kamu. Tapi tidak kehilangan “Sepanjang Braga”.

“Kau sudah mempersiapkan sejak lama, bukan? Undangan pernikahan tak mungkin dibuat secepat itu.”

“Benar. Maksudku, undangan itu hanya berupa print-out yang kubuat di sekretariat FSRD. Kalau hal itu membuatmu tidak datang, aku mesti bilang apa? Oke, tampaknya aku harus masuk pesawat. Salam untuk Chiara dan Baby.”

Seminggu setelah teleponmu itu, kupasang kanvas baru. Menyiapkan semua botol cat, kuas, dan minyak pengencer. Tapi, telah dua jam aku di sini: pada sebuah kamar yang memiliki lebih dari seratus warna dan aroma cat. Dalam keadaan ngungun. Perasaanku dibungkus kesunyian luar biasa.

***

Jakarta, 99-01