Kapan partikel “pun” ditulis terpisah dan kapan ditulis serangkai?

1. Kita lihat dulu beberapa contoh yang salah.
 a. Ia sering ke Bali, tetapi satu kalipun ia belum pernah singgah ke rumah kami.
 b. Apapun yang dimakannya, ia tetap kurus.
 c. Kemanapun ia pergi, pacarnya selalu mengikutinya.

Penulisan partikel “pun” pada contoh-contoh di atas tidak benar. Penulisan “pun” yang benar harus terpisah dari kata yang mendahuluinya, karena “pun” mengandung arti juga yang merupakan adverbia.

2. Dengan demikian, penulisan partikel “pun” pada contoh-contoh di atas yang
  benar adalah sebagai berikut.
 a. Ia sering ke Bali, tetapi satu kali pun ia belum pernah singgah ke rumah kami.
 b. Apa pun yang dimakannya ia tetap kurus.
 c. Kemana pun ia pergi, pacarnya selalu mengikutinya.

3. Pemakaian “pun” yang salah terdapat pada contoh kalimat-kalimat di bawah ini.
 a. Sekali pun ia sering ke Bali, satu kali pun belum pernah ia ke Pantai Lovina.
 b. Kendati pun hari hujan, ia pergi juga ke sekolah.
 c. Biar pun tidak disetujui orang tuanya, Minako mau menikah dengan Wayan.

Penulisan “pun” pada contoh-contoh kalimat di atas salah, karena kata yang berikut dianggap padu, dan harus ditulis serangkai. Jumlah kata seperti itu terbatas (hanya 12 kata), yaitu adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, walaupun, sungguhpun.

4. Contoh-contoh kalimat yang salah di atas seharusnya diperbaiki sebagai berikut.
 a. Sekalipun ia sering ke Bali, satu kali pun belum ia ke Pantai Lovina.
 b. Kendatipun hari hujan, ia pergi juga ke sekolah.
 c. Biarpun tidak disetujui orang tuanya, Minako mau menikah dengan Wayan.

Selain kelompok 12 kata yang terbatas di atas yang harus ditulis serangkai, pemakaian “pun” sebagai pengganti juga ditulis terpisah. Camkan! Di mana pun Anda belajar, siapa pun pengajar Anda, bukan masalah penting. Faktor utama terletak pada 3M (minat, motivasi, mawas diri) dalam dirimu sendiri.

1. Minat. Apakah Anda masih memiliki minat untuk belajar bahasa Indonesia,
 walaupun sulit? Dan minat tersebut masih segar atau sudah mulai layu dan
  pudar?
2. Motivasi. Motivasi apa yang mendorong Anda untuk belajar? Sekadar
  coba-coba atau ingin mencapai sesuatu melalui bahasa Indonesia?
3. Mawas diri (introspeksi). Berapa besar hasil yang telah diperoleh dari belajar
 selama ini? Sudah puaskah dengan apa yang tercapai atau ingin lebih maju lagi?

Nah, coba renungkan sekali lagi dan perbarui tekad Anda. Semoga sukses! ***

Sumber: http://www.indonesia.co.jp/bataone/ruangbahasa04.html