1. Kata jam dan pukul masing-masing mempunyai makna sendiri, yang berbeda satu sama lain. Namun, seringkali pemakai bahasa kurang cermat dalam menggunakan kedua kata itu masing-masing sehingga tidak jarang digunakan dengan maksud yang sama.

Kata jam menunjukkan makna “masa atau jangka waktu”, sedangkan kata pukul mengandung pengertian “saat atau waktu”.

Contoh:
(1) Rapat itu akan dimulai pada pukul 10.00.
(2) Bank buka dari pukul 9.00 sampai pukul 15.00.
(3) Kami bekerja selama 8 jam sehari.
(4) Jarak tempuh Jakarta-Bandung dengan kereta api sekitar 2 jam.

Selain digunakan untuk menyatakan arti “masa” atau “jangka waktu”, kata jam juga berarti “benda penunjuk waktu” atau “arloji”, seperti jam tangan dan jam dinding.

2. Ungkapan dan sebagainya (dsb.), dan seterusnya (dst.), serta dan lain-lain (dll.), sering digunakan dalam arti yang sama. Padahal, ketiga ungkapan tersebut mempunyai arti yang berbeda.

a. Ungkapan dan sebagainya (dsb.) digunakan untuk menyatakan perincian lebih lanjut yang bentuknya sejenis.

Contoh: (1) Hadiah yang diperebutkan dalam sayembara itu adalah televisi, radio, video dsb.
      (2) Saya pernah mencoba buah durian, rambutan, salak dsb.

b. Ungkapan dan lain-lain (dll.) digunakan untuk perincian jenis yang beragam, atau tidak sejenis.

Contoh: (1) Dia membeli rokok, minuman ringan, sabun cuci dll. di waserda.
  (2) Dia membawa oleh-oleh kopi, bumbu instan, ukiran kayu dll. dari Bali.

c. Ungkapan dan seterusnya (dst.) berarti “selanjutnya, berikutnya” atau “sejak kinidan selanjutnya”. Tepat digunakan pada perincian yang berkelanjutan secara berurutan.

Contoh: (1) Silakan baca laporan itu dari Bab I, II, III dst.
  (2) Kami disuruh membuat PR dari buku Coba-Coba II dari halaman 10, 11, 12 dst.

Ungkapan dan lain sebagainya, supaya tidak digunakan dalam komunikasi resmi karena ungkapan itu rancu (campur aduk, kacau), yang merupakan gabungan dari dan lain-lain dengan dan sebagainya.

Nah, sudah cukup jelas bagi Anda, pemakaian kata jam dan pukul? Juga ungkapan dan sebagainya, dan seterusnya, dan lain-lain? Jadi, agak sulit untuk memilih ungkapan yang tepat kalau menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Memang, nampaknya soal sepele, tetapi agar cermat berbahasa Indonesia yang baku, perlu Anda fahami. Mungkin Anda berpikir: Wah, rese banget (= berabe sekali), kata orang Betawi, tapi Anda harus pede (PD ) (= percaya diri). So, (=jadi) saya harap Anda tidak bersikap EGPC (= emang gue pikiran cuih, sebodo) (= who cares, I don’t care) seperti kebanyakan ABG (= anak baru gede→remaja). ***

Sumber: http://www.indonesia.co.jp/bataone/ruangbahasa09.html