Cerpen Triyanto Triwikromo
Dimuat di Kompas (01/27/2002O)

Aku sedang belajar menjadi iblis, Susan. Aku akan membakar wajahmu.SUSAN masih termenung di undak-undakan Sydney Opera House ketika angin Oktober yang ganjil dan dingin bangkit dari laut bertabur serbuk putih cahaya bulan. Sambil menenggak Red Wine, ia melihat ratusan ikan asing1 berkelebat terbang mengelilingi gedung-gedung bergaya Victoria di Darling Harbour yang sejak senja dipenuhi puluhan merpati dan para remaja yang asyik berciuman.

“Kalau saja bias lampu itu jalin-menjalin jala, ikan-ikan itu pasti terjaring dan akhirnya menggelepar-gelepar ketakutan,” lenguh Susan pelan.Teramat pelan, sehingga tak mengganggu Fiona yang merespons desau angin dengan denting kecapi Sunda yang menyayat-nyayat sukma. “Aku selalu memimpikan saat-saat seperti ini, Susan. Hanya berdua. Hanya merasakan gairah laut dan menikmati kesunyian cinta sambil sesekali mencumbumu dengan desah tertahan.

“Susan, seperti malam-malam penuh pasir, ketam, kerang, dan gelepar angin di Bondi Beach, tak mendengarkan denting kecapi atau lenguh luka Fiona. Selalu, bahkan setelah meninggalkan Surakarta pada tahun 1998 yang perih, ia lebih terpesona oleh berbagai panorama aneh yang timbul tenggelam di tengah lautan.Saat itu, setelah terlalu suntuk latihan nyindhen untuk opera The Theft of Sita karya sutradara kawakan Australia, Nigel Jamieson, ia juga melihat ratusan kera menyembul dari laut dan berusaha memperkosa istri Rama yang tersalib di bawah kesombongan lengkung Harbour Bridge.Dan, karena setiap loncatan kera didera oleh lampu-lampu indah yang melekat di jembatan lengkung kebanggaan Sydney, panorama itu mengingatkan Susan pada kisah lidah-lidah api yang menjilat-jilat tubuh Sita dalam epos Ramayana.

Ia tahu petilan keindahan cerita itu saat belajar nyindhen di Kota Bengawan. Waktu itu, sebelum hampir seluruh kota di Indonesia dilahap kobaran api, ia diajak penyair Sosiawan Leak ngelayap ke Karanganyar menonton pertunjukan lakon Rama Tambak Ki Manteb Soedharsono.”Dia tak akan bisa lepas dari jerat Rahwana sebagaimana aku sulit lepas dari jaring cinta ajaib Fiona,” lenguh Susan sambil terus menikmati cabikan dawai kecapi sang kekasih.Cabikan itu menimbulkan bunyi ganjil serupa desau ombak, serupa riuh angin yang membelai rambut indah Fiona. Lalu, karena Fiona mendesahkan lengking yang tak lengking, lenguh yang tak lenguh, ngiau yang tak ngiau, malam tiba-tiba seperti dikepung suara-suara hantu.Tidak! Tidak! Di telinga Susan, suara Fiona yang serak tak serak itu ternyata lebih menyerupai desis soul Bertha, penyanyi jazz dari Betawi, saat melantunkan New York New York, Are You Girl Friend, atau Kasih di Kala Remaja secara bersamaan.Suara itu menggelepar bagai ikan-ikan asing dari laut yang juga asing, sehingga membuat bulu kuduk Susan berdiri tak karuan. Dan itu membuat perempuan bertabur manik-manik dari Weipa-Nappranum2 yang tak henti-henti menenggak Red Wine tersebut punya alasan memeluk sang kekasih. Punya alasan mendekap jiwa yang tak pernah kehilangan cahaya rembulan.

“Sudahlah darling, kita toh masih punya banyak acara. Hentikan denting kecapimu.”

“Acara apa lagi?”

“Apa lagi kalau tak merampok pria-pria dungu di King Cross!”

Tanpa dikomando dua kali, Fiona mengerti maksud Susan. Sebagaimana malam-malam sebelumnya, bersama Susan, dia akan melesat ke kawasan mesum terbesar di Sydney itu, menyamar sebagai penari bugil, dan akhirnya memperdaya pria-pria pemabuk dan menguras kantung mereka.

“Ingat, selalu hanya untuk uang mereka. Bukan untuk yang lain-lain.””Ya, selalu hanya untuk kedunguan mereka,” bisik Fiona sambil mengulum lembut telinga perempuan Aborigin yang sekalipun agak berkulit gelap, selalu tampil menawan itu.***

Ia adalah bidadari dari Thainakuith. Tetapi ada yang hendak membunuh perempuan seindah keramik Cina itu. Ada yang hendak membakar wajah tembikar bersepuh mawar yang tak pecah-pecah itu.Sesungguhnya saya hanya penari bugil. Selalu jika malam telah melabrak lampu-lampu merkuri, saya akan melesat ke King Cross, menyusup ke salah satu ruang pengap yang senantiasa dikerumuni para lelaki, dan menarikan jiwa liar untuk mengeruk dollar dari pria-pria aneh yang sering saya andaikan sebagai kerumunan kera itu.Asal tahu, saya tak pernah jatuh cinta pada Subali-Sugriwa yang pencilakan itu. Apalagi terperangkap cinta para Anoman.

Aha, memang keliru mengandaikan mereka dengan para jagoan Ramayana yang digambarkan para dalang sebagai pahlawan lurus hati itu. Tetapi, begitulah, saya memang telanjur menganggap mereka sebagai kera-kera-kera serakah. Dan, sebagaimana Ki Manteb, saya memang tak pernah menganggap Sugriwa, Subali, atau Anoman sebagai pahlawan.Jika boleh menyebut jiwa yang mendesis-desis sebagai cinta, rasa kasmaran saya justru senantiasa membelit tubuh Fiona. Dan cinta kami, kalau boleh dua perempuan cantik mengikrarkan cinta, bisa diibaratkan sebagai ular-ular yang pating kruntel tak terpisahkan.

“Sejak lama hidupku sudah terpisah dari kehidupan orang-orang Sydney, Fiona. Seperti kepada nenek moyangku, mereka selalu mencoba mendepakku dari pub, gereja, bahkan dari jalanan gelap sekalipun. Dan, jatuh cinta kepadamu akan lebih menyingkirkan aku dari mereka,” kata saya kepada Fiona ketika kali pertama perempuan manis dari 27 Kent Road, Rose Bay, New South Wales 2029, itu mencium kening.

“Dengar, Fiona! Kalau kita tinggal serumah, sangat mungkin saudara-saudaramu akan menuangkan racun ke gelas minumku. Ya, bukankah nenek moyangmu pernah meracun air sungai yang menghidupi orang-orang Aborigin. Dan aku? Aku, sebagaimana anak-anak manis Thainakuith lain, adalah cucu Thancoupie.”3Fiona yang saat itu mabuk hanya tersenyum. Saya tak peduli. Sambil terus menenggak Red Wine, saya berondongkan keluhan-keluhan saya kepada perempuan seindah pelangi itu.

“Aku kira, siapa pun dirimu, pasti tahu sepak terjang Thancoupie. Well, sebagaimana dia, aku juga akan jadi pejuang. Akan aku tunjukkan kepada Howard, aku pun bisa melakukan lebih banyak hal ketimbang orang-orang yang merasa sok England.

“Lagi-lagi saat bulan hanya tampak seperti bumerang, Fiona hanya mengguratkan senyum indah di wajah yang didera lampu warna-warni di pub itu. Tanpa sungkan-sungkan, dia memeluk saya dan mendesiskan kata-kata mesum yang menggelegakkan birahi.”Sudahlah, Sayang, kamu terlalu banyak minum. Ayo pulang ke rumahku dan aku akan memberimu surga seindah Thainakuith.””Apa? Jangan menganggap aku mabuk, Fiona. Tanah indah itu kini telah jadi Weipa-Nappranum. Sejak tahun 1958 kawasan itu menjadi areal tambang bauksit yang dikelola orang-orang asing.

O, jadi kau akan menyepuhku dengan aluminium? Kau akan menjadikan aku sebagai robot?”Fiona tak menjawab pertanyaan saya. Dengan sigap, dia menyeret saya keluar dari pub dan segera membawa saya ke Kent Road, ke rumah indahnya.Sejak itu, saya tahu Fiona ternyata pemusik yang menyamar sebagai penari bugil. Sejak itu, saya tahu, dia sebenarnya sedang meneliti respons para pria pemabuk terhadap gairah musik dan tari Sunda. Saya pernah melihat dia menarikan tari jaipongan di tengah-tengah pria-pria rakus yang terus-menerus melirik pantatnya. Karena itu, saya paham mengapa dia belajar tari dan kecapi Sunda di Bandung, sebagaimana saya belajar nyindhen di Surakarta dan membuat gerabah di Kawedanan Delanggu.***

OKTOBER yang perih mengguyur King Cross dengan hujan putih. Kristal-kristal tajam itu menampar-nampar lampu warna-warni yang menghias pub dan bar sehingga menimbulkan panorama serupa kembang api di kegelapan malam. Sebelumnya, sesabit bulan liar menebarkan kegaiban. Tetapi cuma sesaat.

Cuma sesaat.Meski begitu, tak sedikit orang-orang berlalu-lalang menyisir trotoar. Kadang-kadang mata mereka jelalatan saat berpapasan dengan perempuan-perempuan jalang. Kadang-kadang mereka memandang takjub setiap perempuan yang mendesahkan kata-kata mesum di bibir pintu puluhan sex shop, pub, dan bar.Malam itu saya lihat Susan sudah mendapatkan pasangan. Saya tak tahu asal-usul pria yang mendekap perempuan dari Weipa-Nappranum dengan pelukan teramat mesra itu.

Yang jelas pria itu berambut cepak. Sorot matanya mengingatkan saya pada pandangan nakal pria-pria Pasundan saat melirik perempuan-perempuan bule yang melintas di Jalan Braga.Aneh! Sama sekali saya tak cemburu menyaksikan percumbuan mereka. Saya sudah tak mencintai Susan? Mungkin. Mungkin karena saya memang sudah tak ingin lagi bertopeng di hadapan perempuan yang mendesahkan kata-kata kotor saat bercinta atau mengkritik perilaku politik Howard itu.

Susan seharusnya tahu mengapa beberapa waktu lalu saya menampar wajahnya saat dia memergoki saya mencium Rob, pria England yang tampan itu, di ujung jalan. Dia seharusnya mengerti mengapa saya menyingkirkan keramik-keramik dan lukisan-lukisan kayu Thancoupie dari kamar, tempat kami bercanda dan menghabiskan malam-malam hampa bersama Red Wine, Kahlua Cream, atau Long Island.Seharusnya dia paham mengapa saya sangat membela Howard.

O, kalau saja dia mengerti mengapa saya menguntit dia hingga ke Indonesia, tentu saya tak perlu terus-menerus bersandiwara dan berpura-pura mencintai perempuan lugu itu. Sayang, Susan tak pernah mengerti keterlibatan saya dalam proyek-proyek pemusnahan suku Aborigin. Dia juga tak tahu mengapa saya begitu ngotot membela pendirian berbagai pabrik bauksit di Weipa-Nappranum.Ya, dia sama sekali tak pernah mau mengerti isyarat-isyarat yang saya hunjamkan ke jiwanya yang sekasar hamparan pasir di Bondi Beach itu. Bahkan, saat ditampar, dia malah menantang agar saya mengguyur wajahnya dengan bensin dan membakar kecantikan tak bertara itu dengan cara sekejam mungkin.

“Kau tak akan pernah berani membunuhku, Fiona. Kau tak akan pernah mampu menghancurkan rasa cinta.”Untuk sementara, tak keliru Susan meledek ketakmampuan saya untuk sekadar melukai wajahnya yang seindah lukisan-lukisan Thancoupie yang lugu dan membuncahkan kegaiban tak habis-habis itu.Tetapi, rasa hampa penuh iblis, malam itu, rupa-rupanya bisa mengubah kesucian cinta. Iblis telah mengajari saya untuk mempersetan rasa iba.

Dan, saya agaknya memang sedang belajar menjadi iblis. Maka, jangan heran jika kelak saya punya keberanian membakar wajah Susan.Jangan kaget kalau saya bisa melupakan kisah-kisah cinta kami setelah tahu tak mungkin hidup bersama orang yang sangat memengaruhi musik, lukisan, tarian, dan pikiran-pikiran saya.Lalu saya pun melesat meninggalkan King Cross yang makin menebarkan bau anyir. Sudah saatnya kutinggalkan kepura-puraan. Sudah saatnya kutanggalkan penyamaran-penyamaran yang memuakkan ini. Susan, Aborigin, dan Thancoupie bukanlah duniaku. Akhirnya, aku memang harus membunuhmu, Susan! Akhirnya aku harus membakarmu! ***

“KAPAN kau akan membunuh dia?” sebuah suara dari seberang berdentang-dentang di gagang telepon.Fiona enggan menjawab pertanyaan itu.”Kau jadi membakarnya?”Fiona masih tak mau menjawab. Meski begitu tangannya menggapai jeriken bensin yang sejak lama teronggok di kamar.

“Jangan terlalu menimbang-nimbang. Siapa pun dia tetaplah musuh kita.”Musuh? Fiona tak mungkin menganggap Susan sebagai musuh. Sebab, selama menjadi mata-mata, dia sama sekali tak pernah melihat Susan sebagai penggerak demonstrasi. Dia bahkan tak pernah berhubungan dengan orang-orang Aborigin yang sekali waktu berkeliaran di Darling Harbour atau George Street.”Sudahlah. Kami tak mau menunggu lebih lama lagi. Laksanakan tugasmu tanpa bertanya-tanya lagi!”Fiona tak berani menolak perintah. Kini, tangannya gemetar menjinjing jeriken bensin yang seakan-akan siap digunakan untuk membakar dunia itu.***”

SUSAN masih membayangkan diri sebagai Sita yang dipuja oleh Rama, Rahwana, dan ribuan kera sialan itu, Fiona. Kita akan bisa segera pentas bersama. Kau akan mencabik-cabik dawai kecapi, aku bakal melantunkan tembang-tembang asing yang tak pernah didengar oleh Howard atau komposer-komposer advant garde sekalipun,” desis Susan sambil memperkeras ketukan.Tentu saja Fiona mendengar suara-suara yang memuakkan itu.

“Ketahuilah, Fiona, dalam pentas nanti publik akan tahu betapa kita hanyalah ikan-ikan asing yang berenangan di Sydney Aquarium,” Susan melenguh lagi.Tak ada jawaban. Fiona mendekati pintu tanpa menimbulkan suara-suara yang mencurigakan.

“Kau boleh boleh menganggap dirimu sebagai ikan atau burung-burung paling indah. Yang jelas, kau akan jadi ikan bakar. Camkan itu!”Tak ada ikan bakar di kepala Susan.

Di otaknya yang disusupi alkohol, Sita yang tersalib di Harbour Bridge mulai dibakar ratusan kera. Dan kobaran api itu… kobaran api itu mengingatkan bara cintanya yang tiada tara kepada Fiona.”O, dentingkan kecapi Sundamu, Fiona! Bakar aku! Bakar aku dengan api cintamu!”Lalu segalanya mengabur. Tak ada denting kecapi. Tak ada cericit burung-burung malam di Kent Road yang pedih dan sunyi. Hanya ikan asing terbang di atas samodra yang juga asing. Seperti tahun-tahun lalu. Seperti sebelum angin dan lengking musim yang ganjil menidurkanmu. ***

Sydney, 2001