Cerpen Teguh Winarsho AS
Dimuat di Media Indonesia (01/27/2002)

1.EMBUN pagi masih berkerendahan di kaca jendela, mengeremang seperti pandangan mata manis, saat Elina menggeliat baru bangun tidur. Mata Elina masih kuyu seperti mata kupu-kupu. Tetapi bola mata mungil itu segera mengerjap haru saat menatap embun di jendela kamarnya yang putih seperti guguran salju. Membuat khayal Elina melambung jauh, membayangkan suatu saat nanti bisa pergi ke sebuah tempat yang penuh salju. Mungkin di sebuah bukit yang tinggi atau jurang yang dalam sehingga yang tampak hanya warna kelam kelabu.Tetapi khayalan itu hingga kini belum pernah terwujud. Membuat Elina kerap cemberut bersungut-sungut.

“Tuhan tidak adil, sebab tidak mau berbagi!” Seiring Elina mengucapkan kalimat-kalimat itu dengan bibir pucat membiru.Lain waktu, dengan kemarahan meledak-ledak Elina menghapus embun di jendela kamarnya. Jendela kaca yang semula buram itu menjadi bening, bersih.

“Aku tak mau kami tipu! Elina berseru. Napasnya sengal, memburu. Matanya merah menyimpan amarah sekaligus rasa ngilu.EMBUN di jendela kamar Elina sudah lama tidak muncul. Tetapi Elina tidak sedih atau kecewa. Sebab, Elina memang sudah tidak suka melihat embun dan juga tidak ingin pergi ke sebuah tempat bersalju. Elina justru ingin menjadi seekor burung yang bisa terbang ke langit biru. Dari jendela kaca kamarnya yang kini selalu bening, setiap kali bangun tidur Elina suka menatap burung-burung yang berkicau di ranting pohon jambu samping rumah.

Burung-burung itu, meski tubuhnya kecil tapi bisa terbang tinggi. Elina juga ingin bisa terbang tinggi seperti burung-burung itu. Karenanya, setiap kali mau berangkat tidur, Elina selalu berdoa agar ketika bangun nanti ia sudah menjadi seekor burung. Tetapi lagi-lagi Elina kecewa sebab setiap kali bangun tidur dirinya masih belum berubah menjadi seekor burung.Elina putus asa. Ia kemudian malas berdoa. Kalaupun sesekali ia masih berdoa itu hanya dilakukan iseng-iseng belaka. Elina tahu, Tuhan pasti tidak akan memperhatikan dia dari mulut iseng. Tetapi pagi ini Elina sangat terkejut. Ketika semalam ia tidak berdoa, bahkan yang iseng sekalipun, pagi ini ia justru mendapati sepasang sayap mungil tumbuh di punggungnya.

Sepasang sayap dengan bulu-bulu halus berwarna putih dengan garis-garis biru dan ungu melengkung tipis saling bersinggungan di kedua sisi dalamnya.Apakah aku mimpi? Tanya Elina dalam hati. Takjub. Heran. Di depan cermin Elina terus menggosok-gosok mata, ingin meyakinkan penglihatannya. Tidak salah! Sepasang sayap itu benar-benar tumbuh di punggungnya. Sepasang sayap mungil dengan bulu-bulu putih halus tampak indah memesona. Pelan, gemetar, jari-jari Elina menyentuh kedua ujung sayap itu. Terasa dingin seperti baru dimasukkan dalam kulkas.Tapi, tiba-tiba terdengar pintu diketuk dari luar. Keras seperti digedor. Elina kaget, buru-buru mengenakan baju, menyembunyikan sepasang sayap di punggungnya.

Elina tahu, hanya Mama di rumah ini yang suka menggedor pintu seperti seorang perampok. Tak sempat naik kursi roda, Elina menggelesot di lantai membuka pintu kamar. Benar. Seraut wajah berminyak dan sepasang bola mata melotot sudah berdiri di depan pintu. Berkacak pinggang. Elina gemetar, merunduk. Tubuhnya seperti mau ambruk.”Dasar anak pemalas! Jam segini baru bangun!” Mama menjewer telinga Elina. Selalu begitu setiap Elina bangun kesiangan. Tapi Elina tidak meronta. Sebab Elina tak ingin tangan Mama yang penuh logam kuning bergemerincing itu melayang menggampar mukanya. Elina tetap merunduk, tunduk. Lalu, ketika Mama beringsut masuk kamar, perlahan Elina menggelesot menghampiri kursi roda di samping tempat tidurnya. Elina tahu apa yang harus dilakukannya pagi-pagi begini, yaitu membuat kopi untuk Mama. Mama pasti capek selalu setelah semalaman bekerja dan baru pulang subuh tadi.Tapi, baru beberapa detik, Mama sudah tidak sabar, berteriak serak dalam kamar.

“Cepat sedikit, Elina!” Membuat Elina kikuk, tergesa-gesa. Ya, pekerjaannya sering tidak pernah sempurna, justru karena Mama tidak sabar, ingin cepat selesai. Tapi…hmmm, secangkir kopi panas itu telah siap dihidangkan dan aromanya segera meyebar memenuhi seluruh ruangan, menyelusup ke celah-celah lubang masuk ke dalam kamar Mama.

PAGI cerah. Mama pergi. Seperti biasa Elina mendorong kursi rodanya ke teras depan, dan dari sela-sela rimbun pohon bunga yang tumbuh di halaman, ia akan melihat teman-teman sebayanya berangkat sekolah. Elina, 14 tahun. Mestinya ia juga sudah sekolah dan bahkan duduk di bangku kelas dua SMP. Tapi Mama selalu meludah setiap kali mengutarakan keinginannya untuk sekolah. Mama bilang, hanya orang-orang bodoh saja yang masih perlu sekolah. Sedang dirinya, kata Mama, bukan orang bodoh, karenanya tak perlu sekolah.Setiap hari Elina dikurung di dalam rumah. Tak boleh keluar untuk alasan apa pun. Tapi pernah suatu kali diam-diam Elina pergi ke rumah Neti, tetangga sebelah, yang mau mengajari membaca, menulis, dan berhitung. Tapi baru delapan kali pertemuan, pada pertemuan terakhir, Mama datang dengan pentungan kayu.

“Kamu sudah pintar, Elina! Tak perlu belajar!” Mama mendengus. Sejak itu Elina takut keluar rumah. Paling, pagi-pagi, ia hanya duduk di teras depan melihat teman-teman sebanyanya berangkat sekolah lalu kembali masuk ke dalam rumah.Tapi, sudah beberapa hari ini Elina sering menghabiskan waktunya seharian di teras depan. Bukan untuk melihat teman-teman sebayanya yang mau berangkat sekolah. Bukan. Tapi untuk mencuri pandang seraut wajah laki-laki yang kerap muncul dari pintu rumah seberang jalan; berambut klimis, mengenakan kacamata tipis, tersenyum manis, sesekali melambaikan tangan.

Ya, Elina suka menatap laki-laki itu. Membuat jantungnya berdegup keras saat tanpa sengaja bola matanya beradu dengan bola mata milik laki-laki itu. Dan, begitulah, suatu perasaan aneh tiba-tiba menjalar kuat di benak Elina membuat dunia sekelilingnya terasa indah.SEMAKIN hari sepasang sayap di punggung Elina tumbuh semakin panjang dengan bulu-bulu yang kuat dan kukuh. Dulu Elina pernah ingin memotong sepasang sayap itu karena takut ketahuan Mama. Mama pasti akan marah besar jika tahu di punggungnya tumbuh sepasang sayap. Tapi niat itu segera diurungkan karena Elina sadar dirinya akan menjadi jelek tanpa sepasang sayap itu. Memang agak repot, sebab ia harus mengenakan pakaian longgar supaya tidak ketahuan Mama.Ini adalah hari kesepuluh sejak sepasang sayap itu tumbuh di punggung Elina. Elina suka menatap berlama-lama sepasang sayap itu lewat cermin di kamarnya atau ketika sedang mandi.

Elina juga mengelus-elusnya. Elina merasa dirinya setiap hari terus bertambah cantik dengan sepasang sayap itu. Membuat perasaannya melambung bahagia. Apalagi, ya, apalagi. Tiga hari lalu, laki-laki berkaca mata tipis seberang jalan secara mengejutkan datang ke rumah ketika Mama sedang pergi ke luar kota.Di mata Elina, laki-laki itu cukup tampan, sopan, dan ramah. Rambutnya disisir rapi ke belakang, jidatnya tampak licin, mengilat. Elina menduga laki-laki itu pasti pintar dan suka membaca buku.Sejak pertemuan itu, laki-laki itu sering datang ke rumah Elina. Laki-laki itu seperti tahu kapan Mama Elina pergi ke luar kota. Kadang laki-laki itu seharian menemani Elina duduk di teras depan; ngobrol, tertawa-tawa. Tapi, lama-lama laki-laki itu bosan duduk di teras depan. Apalagi ketika suatu hari turun hujan lebat disertai angin kencang, laki-laki itu punya alasan untuk masuk ke dalam rumah, nonton televisi di ruang tengah. Tapi acara televisi yang hanya itu-itu saja cepat membuat laki-laki itu jengah. Laki-laki itu kemudian minta izin ingin melihat kamar Elina. Sekadar melihat-lihat saja. Elina tidak keberatan.

Ya, tak ada sesuatu yang tak diizinkan Elina untuk laki-laki itu. Tak terkecuali ketika suatu hari laki-laki itu mencium pipi Elina….Dan, begitulah. Waktu terus bergulir. Detak jam terus berputar. Mama lebih sering pergi ke luar kota untuk sebuah urusan yang tak pernah dimengerti Elina. Dan, laki-laki seberang jalan itu juga sering datang ke rumah Elina. Mereka kini lebih suka ngobrol di dalam kamar ketimbang di teras depan atau di ruang tengah. Tapi, kian lama mereka kian kehabisan bahan obrolan. Kata-kata cinta sudah habis diucapkan. Bunga-bunga sudah tumbuh bermekaran. Tak ada yang perlu diragukan. Elina sendiri kemudian lebih banyak diam. Termasuk ketika suatu hari laki-laki itu memeluknya lalu mendorong tubuhnya hingga terjerembap di atas ranjang….Tapi, Mama bukan orang bodoh. Dengan cepat Mama mampu mengendus gelagat Elina. Mama marah besar. Suatu malam Mama mendatangi Elina yang tengah asyik rebahan di atas kasur. “Elina!” suara Mama melengking seperti gelas terbanting.

“Sudah kuperingatkan berkali-kali kamu tidak boleh berhubungan dengan siapa pun juga! Termasuk laki-laki seberang jalan itu! Ngerti?” Malam itu juga Mama mengurung Elina di dalam kamar. Elina sedih. Setiap hari menangis.Kesedihan Elina semakin menjadi-jadi ketika ia ingat laki-laki seberang jalan itu. Elina rindu ingin ketemu laki-laki itu. Elina ingin menatap mata laki-laki itu yang lembut menggetarkan, mampu memberinya ketenteraman. Elina ingin bercanda, tertawa, dan …ups! Tiba-tiba Elina diingatkan sesuatu tepat saat tangannya meraba perutnya. Perutnya terasa mual mulas dan seperti mau muntah. Kenapa? Ada apa? Mata Elina menerawang menatap langit-langit kamar. Langit-langit kamar yang dulu putih bersih itu kini telah menjadi kusam, retak-retak, seperti suasana hatinya.

SEMAKIN hari kerinduan Elina semakin tak tertahankan. Elina tak bisa berbuat apa-apa selain menangis, menyurukkan kesedihannya di lipatan bantal. Jendela kamarnya terlalu tinggi untuk ukuran dirinya yang cacat, lumpuh. Seandainya kakinya tidak lumpuh tentu ia sudah meloncat jendela menemui laki-laki seberang jalan itu. Ah, betapa kejamnya Mama, hanya jatuh cinta saja dilarang! batin Elina kesal, mengutuki nasibnya yang serbasial. Tapi, benarkah aku jatuh cinta? Elina kadang merasa tidak yakin jika perasaan yang menekan dadanya itu bernama cinta. Cinta? Hmmm. Betapa indahnya kalimat itu, seindah mentari pagi.Meski Elina dikurung di dalam kamar, tapi cintanya terus mekar. Cinta Elina terus mekar seiring sayap di punggungnya yang tumbuh kian kuat, kukuh, dan lebar. Ya, ya, tak ada seorang pun di dunia ini yang bisa melarang seseorang jatuh cinta, meski orang itu adalah ibu kandung sendiri. Demikian Elina.

Maka, pada suatu hari yang bahagia, ketika Mama sedang pergi ke luar kota, sepasang sayap di punggung Elina tiba-tiba mengepak pelan hingga angin berdesir memenuhi kamar. Lalu, mengepak lebih kencang lagi hingga tubuh Elina perlahan-lahan terangkat ke atas. Ke atas. Elina bisa terbang!Elina tertawa bahagia. Meski kakinya lumpuh, dirinya bisa terbang. Tuhan telah memahkotai dirinya dengan sepasang sayap jelita sebagai ganti kedua kakinya yang lumpuh! Sejenak Elina berputar-putar mengitari kamar lalu melesat keluar lewat jendela, mengitari halaman mencumbui bunga-bunga. Saking bahagianya hingga Elina lupa dengan laki-laki seberang jalan itu. Tapi, begitu ingat, Elina langsung melesat menuju rumah seberang jalan ingin menemui laki-laki itu. Tetapi Elina terkejut saat mendapati laki-laki itu tengah bercinta dengan seorang gadis sebaya dirinya di bangku bawah pohon belakang rumah….